Skip to content
China Technology Observer China Technology Observer

  • Home
  • Bandung & China
  • About Us
  • Contact Us
China Technology Observer
China Technology Observer

SASAC, Mengendalikan BUMN Senilai $12 Triliun!

Avatar photo Helmi Himawan, 30 June, 202410 November, 2025

Dibentuk pada tahun 2003, SASAC (State-owned Assets Supervision and Administration Commission of the State Council) lahir di tengah gelombang reformasi ekonomi tahap kedua China. Saat itu, Beijing sedang mencari keseimbangan antara dinamika pasar bebas dan kendali negara atas sumber daya strategis.
Tujuannya jelas: memastikan agar aset negara tidak tercerai-berai di tengah globalisasi.


Namun dalam praktiknya, SASAC berkembang jauh lebih besar dari sekadar pengawas keuangan.
Ia menjadi semacam “holding raksasa” bagi lebih dari 90 perusahaan milik negara di tingkat pusat.
Perusahaan-perusahaan negara non-keuangan ini mencakup sektor paling vital — energi, transportasi, telekomunikasi, pertahanan, dan infrastruktur berat.


Nama-nama besar seperti China National Petroleum Corporation (CNPC), State Grid Corporation of China, China Mobile, hingga China Railway Group semuanya berada di bawah pengawasan SASAC.
Bersama-sama, mereka mengendalikan aset bernilai triliunan dolar AS. Mereka juga menjadi ujung tombak dalam proyek-proyek global seperti Belt and Road Initiative.

Bisa dikatakan, SASAC adalah “Kementerian BUMN”-nya China. Tetapi dengan cara kerja yang jauh lebih teknokratik dan korporatis.

SASAC memiliki misi ganda.

Pertama, memastikan agar perusahaan milik negara (SOE) tetap sehat, efisien, dan kompetitif.
Kedua, menjaga agar aset publik tetap berada di bawah kendali strategis negara.


Dua hal ini sering kali tampak bertentangan — efisiensi pasar dan kontrol negara — tetapi di tangan SASAC, keduanya dirangkai dalam kerangka khas sosialisme dengan karakteristik China.
Di bawah arahan SASAC, banyak BUMN China yang mengalami restrukturisasi besar. Yang lemah digabungkan. Yang redundan dihapus. Yang kuat diperluas ke luar negeri.

SASAC juga mendorong para manajer BUMN agar berpikir layaknya eksekutif swasta, tanpa kehilangan arah ideologisnya. Mereka dituntut untuk mengejar laba, tapi tetap “patuh” pada garis strategis nasional.
Konsep ini dikenal sebagai “market-oriented but state-guided”.

Dua Dekade, hasilnya mencengangkan.


Perusahaan-perusahaan di bawah SASAC menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi China.
Mereka mendominasi daftar Fortune Global 500, dengan lebih dari 50 perusahaan asal China yang sebagian besar adalah BUMN.


SASAC tak hanya memantau neraca keuangan, tetapi juga memegang kendali atas penunjukan eksekutif puncak. Dengan kata lain, setiap CEO di bawah SASAC adalah bagian dari sistem kader nasional.
Hal ini menjadikan SASAC bukan hanya lembaga ekonomi, tetapi juga instrumen politik yang strategis.
Melalui mereka, kebijakan makroekonomi, industrialisasi, dan diplomasi ekonomi China bisa diterjemahkan langsung ke dalam operasi bisnis konkret.

Dalam konteks global, SASAC menjadi contoh unik bagaimana negara bisa tetap menjadi pemain utama di ekonomi pasar. Di Barat, dominasi negara sering diasosiasikan dengan inefisiensi. Namun di China, SASAC membuktikan bahwa kepemilikan publik bisa dikelola dengan disiplin korporasi dan logika bisnis modern.


SASAC juga berperan besar dalam mendorong inovasi teknologi nasional.


Melalui investasi strategis, lembaga ini memfasilitasi kolaborasi lintas industri — dari energi bersih, AI, 5G, hingga transportasi cerdas. Misalnya, transformasi digital di perusahaan energi besar seperti China Southern Power Grid tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga soal kedaulatan teknologi. SASAC secara eksplisit menyatakan bahwa inovasi adalah “prioritas utama dalam pembangunan perusahaan milik negara”. Mereka ingin agar BUMN tidak lagi hanya menjadi pembeli teknologi asing, tetapi produsen teknologi global.

Perubahan besar juga terjadi pada struktur tata kelola.
Jika dulu BUMN cenderung birokratis, kini mereka semakin mirip dengan konglomerat multinasional.
SASAC memperkenalkan sistem evaluasi berbasis kinerja, termasuk laba, efisiensi energi, dan inovasi.
Setiap tahun, lembaga ini mengumumkan “peringkat kompetitif” antarperusahaan BUMN pusat.
Hasilnya digunakan sebagai dasar untuk promosi eksekutif dan alokasi sumber daya. Langkah ini menciptakan kultur kompetisi sehat antarentitas negara. SASAC bahkan mendukung beberapa perusahaan untuk melakukan IPO di bursa dalam dan luar negeri. Tujuannya bukan hanya untuk mendapatkan modal, tapi juga untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola.

Bagi banyak negara berkembang, SASAC menjadi model baru: bagaimana menggabungkan kekuatan negara dengan logika pasar tanpa kehilangan arah strategis nasional. Ia menunjukkan bahwa ekonomi modern tidak harus menyingkirkan negara dari panggung utama. Sebaliknya, negara bisa menjadi manajer cerdas dari aset publiknya. Di China, hal itu diwujudkan lewat tangan SASAC.

SOE

Post navigation

Next post
@icct.asia

Apakah benar teknologi China sudah unggul di dunia? ini pendapat Amerika Serikat sendiri. #china #chinatechnology #teknologichina

♬ original sound - ICCT - ICCT
@icct.asia

Project 211 dan 985 Usaha untuk menjadi world class university di China. Apakah Rp 18 trilliun (USD 2,2 milyar di tahun 2000) itu besar? Pada tahun 1995, saat project 211 mulai, pendapatan fiskal China sekitar USD 75,2 miliar, jadi hanya 3% dari pendapatan negara. Tahun 2017 saat program Double First-class Plan dimulai, pendapatan China sudah mencapai USD 2,69 trilliun (salah satu faktornya adalah ekspor produk teknologi, hasil investasi di pendidikan tinggi). Otomatis anggaran peningkatan kualitas pendidikan tinggi juga segede gaban di 2017. Sebagai perbandingan estimasi pendapatan fiskal Indonesia di 1995 sekitar USD 30,2 miliar. Tahun 2017 menjadi USD 118 miliar. Orang bilang, saat yang paling tepat menanam pohon adalah 70 tahun yang lalu. Tetapi kalau dulu kita lupa menanam, saat terbaik adalah sekarang. #chinatechnology #teknologichina #china #project211

♬ original sound - ICCT - ICCT
©2026 China Technology Observer