Skip to content
ICCT.asia ICCT.asia

  • Home
  • Bandung & China
  • About Us
  • Resources
ICCT.asia
ICCT.asia

  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube

Transfer Teknologi Mobil Eropa ke China Senilai Rp. 2 Triliun

Helmi Himawan, 29 August, 202630 August, 2026

 

Bagaimana sebenarnya proses transfer teknologi dilakukan?

Kalau kita membayangkan transfer teknologi sebagai sesuatu yang sederhana—membeli mesin, membawa pulang, lalu menirunya—cerita industri otomotif China menunjukkan bahwa prosesnya jauh lebih menarik.

Salah satu contoh yang sangat jelas datang dari industri mobil. Cerita ini dikisahkan dalam buku Decoding China’s Car Industry karya Li Anding, dan

Cerita ini bermula dari seorang tokoh bernama Xu Heyi, Chairman Beijing Automotive Industry Holding, yang kemudian dikenal sebagai BAIC Group.

Pada masa itu, BAIC sebenarnya sudah memiliki pengalaman besar dalam industri otomotif. Perusahaan ini sukses membangun joint venture dengan Hyundai dan mampu memproduksi mobil dalam jumlah besar sekaligus menghasilkan keuntungan.

Namun sekitar 2008–2009, muncul persoalan baru.

BAIC ingin naik kelas. Mereka tidak ingin selamanya hanya memproduksi mobil bersama perusahaan asing. Mereka ingin memiliki merek dan teknologi sendiri—sebuah indigenous brand.

Masalahnya, memiliki pabrik tidak otomatis berarti memiliki teknologi.

BAIC kemudian mencoba mencari partner dari luar negeri untuk mendapatkan teknologi otomotif. Beberapa upaya dilakukan, tetapi tidak berhasil. Salah satu kendalanya adalah keengganan perusahaan otomotif asing untuk mentransfer teknologi inti kepada perusahaan China.

Kemudian datang sebuah peluang.

Awal 2009, BAIC mengetahui bahwa Saab, perusahaan mobil asal Swedia yang berada di bawah General Motors (GM), sedang mengalami kesulitan keuangan. Bagi BAIC, kondisi ini justru bisa menjadi kesempatan.

Kali ini strateginya sedikit berbeda.

BAIC menggandeng Koenigsegg, produsen mobil sport asal Swedia. BAIC membeli sekitar 20% saham Koenigsegg. Kemudian Koenigsegg akan menjadi pihak yang bernegosiasi dengan Saab untuk membeli teknologi.

Strukturnya dibuat sederhana: BAIC ingin mendapatkan teknologi mobil generasi terbaru dan sistem mesin Saab. Sementara nama Saab dan fasilitas pabriknya akan menjadi bagian dari kesepakatan Koenigsegg.

Negosiasi pun dimulai pada 24 Agustus 2009.

Dari pihak BAIC, negosiasi dipimpin oleh Wang Dazong, dengan dukungan Gu Lei yang merupakan pimpinan riset BAIC.

Selama beberapa bulan, semuanya terlihat berjalan baik.

Sampai akhirnya, pada 24 November 2009—hanya beberapa hari sebelum kontrak ditandatangani—datang telepon yang mengubah semuanya.

Koenigsegg memutuskan mundur dari negosiasi.

Kesepakatan yang sudah hampir selesai itu tiba-tiba gagal.

Bagi BAIC, ini tentu menjadi pukulan berat. Mereka sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun kesepakatan, dan tinggal selangkah lagi menuju tanda tangan.

Tetapi kegagalan itu justru memunculkan ide baru.

Kalau Koenigsegg mundur, mengapa tidak langsung bernegosiasi dengan Saab dan GM?

Memang ada risiko besar. Sebelumnya BAIC sudah mengalami kesulitan ketika bernegosiasi langsung dengan perusahaan asing. Namun kali ini situasinya berbeda.

Saab dan GM sendiri sedang berada dalam tekanan. Mereka membutuhkan penyelesaian segera. Jika tidak menemukan pembeli atau partner baru, Saab terancam harus menghentikan operasinya pada akhir 2009.

BAIC kemudian kembali masuk ke meja negosiasi.

Kali ini permintaannya sangat spesifik: BAIC tidak membeli merek Saab dan tidak membeli pabriknya. Mereka hanya ingin membeli teknologi.

Negosiasi berlangsung intensif. Wang Dazong dan Gu Lei bahkan terbang ke Swedia dan menghabiskan sekitar tiga hari tiga malam untuk menyelesaikan pembicaraan.

Akhirnya, kesepakatan berhasil dicapai.

Namun masih ada satu tahap terakhir.

Karena Saab berada di bawah GM, transaksi tersebut membutuhkan persetujuan dari sejumlah pejabat GM, mulai dari pimpinan GM di Amerika Serikat, GM Eropa, hingga GM Swedia. Bahkan diperlukan pula persetujuan dari US Treasury Department.

Pada 6 Desember 2009, persetujuan akhirnya keluar.

Beberapa hari kemudian, pada 11 Desember 2009, BAIC menyelesaikan pembayaran.

Nilainya sekitar US$200 juta, atau pada saat itu kira-kira Rp2 triliun.

Lalu apa yang dibawa pulang BAIC dengan uang Rp2 triliun tersebut?

Jawabannya menarik.

Bukan sekadar sebuah mobil.

Wang Dazong pulang ke China membawa sekitar 3,5 ton dokumen teknis, spesifikasi, dan puluhan ribu dokumen yang berkaitan dengan teknologi otomotif Saab.

Dari sinilah proses transfer teknologi itu dimulai.

BAIC kemudian menggunakan teknologi tersebut sebagai salah satu fondasi untuk mengembangkan mobil dengan mereknya sendiri, termasuk Beijing Senova D70.

Dan di sinilah kita bisa melihat sesuatu yang sering keliru dipahami tentang industrialisasi teknologi.

Transfer teknologi modern bukan berarti membeli sebuah teknologi lalu menirunya dari nol.

Sebuah perusahaan tidak harus menciptakan seluruh teknologi dari awal seperti Thomas Edison ketika mengembangkan bola lampu. Dalam industri modern, perusahaan bisa membeli, mengakuisisi, atau memperoleh akses terhadap teknologi yang sudah dikembangkan perusahaan lain.

Setelah itu, teknologi tersebut dipelajari, diadaptasi, dikembangkan, digabungkan dengan kemampuan internal, kemudian digunakan untuk menghasilkan produk dengan merek dan kemampuan produksi sendiri.

Inilah yang membuat kisah BAIC-Saab menarik.

BAIC tidak sekadar membeli mobil.

Mereka membeli pengetahuan, desain, spesifikasi, sistem mesin, dan pengalaman rekayasa yang telah dikembangkan Saab selama bertahun-tahun.

Dengan kata lain, mereka membeli waktu.

Daripada membutuhkan puluhan tahun untuk membangun seluruh kemampuan teknologi otomotif dari nol, BAIC menggunakan transaksi senilai sekitar Rp2 triliun untuk memperoleh teknologi yang sudah matang, kemudian membangun kemampuan mereka sendiri di atas fondasi tersebut.

Itulah salah satu wajah transfer teknologi dalam industrialisasi modern China.

Bukan sekadar membeli produk asing.

Tetapi membeli teknologi, menyerap pengetahuan, membangun kemampuan internal, lalu perlahan mengubahnya menjadi kapabilitas teknologi milik sendiri.

Terima kasih, sampai ketemu lagi minggu depan.

Bandung, 29 Agustus 2026

@icct.asia

Transfer Teknologi Mobil Eropa ke China Senilai Rp. 2 Triliun Pada 6 Desember 2009, persetujuan akhirnya keluar. Beberapa hari kemudian, pada 11 Desember 2009, BAIC menyelesaikan pembayaran. Nilainya sekitar US$200 juta, atau pada saat itu kira-kira Rp2 triliun. Lalu apa yang dibawa pulang BAIC dengan uang Rp2 triliun tersebut? Jawabannya menarik. Bukan sekadar sebuah mobil. Wang Dazong pulang ke China membawa sekitar 3,5 ton dokumen teknis, spesifikasi, dan puluhan ribu dokumen yang berkaitan dengan teknologi otomotif Saab. Dari sinilah proses transfer teknologi itu dimulai. Transfer teknologi modern bukan berarti membeli sebuah teknologi lalu menirunya dari nol. Mereka membeli pengetahuan, desain, spesifikasi, sistem mesin, dan pengalaman rekayasa yang telah dikembangkan Saab selama bertahun-tahun. Dengan kata lain, mereka membeli waktu. #chinatechnology #teknologichina #baic #saab #senovad70

♬ original sound – ICCT – ICCT

1

Post navigation

Previous post
@icct.asia

Apakah benar teknologi China sudah unggul di dunia? ini pendapat Amerika Serikat sendiri. #china #chinatechnology #teknologichina

♬ original sound - ICCT - ICCT
@icct.asia

Project 211 dan 985 Usaha untuk menjadi world class university di China. Apakah Rp 18 trilliun (USD 2,2 milyar di tahun 2000) itu besar? Pada tahun 1995, saat project 211 mulai, pendapatan fiskal China sekitar USD 75,2 miliar, jadi hanya 3% dari pendapatan negara. Tahun 2017 saat program Double First-class Plan dimulai, pendapatan China sudah mencapai USD 2,69 trilliun (salah satu faktornya adalah ekspor produk teknologi, hasil investasi di pendidikan tinggi). Otomatis anggaran peningkatan kualitas pendidikan tinggi juga segede gaban di 2017. Sebagai perbandingan estimasi pendapatan fiskal Indonesia di 1995 sekitar USD 30,2 miliar. Tahun 2017 menjadi USD 118 miliar. Orang bilang, saat yang paling tepat menanam pohon adalah 70 tahun yang lalu. Tetapi kalau dulu kita lupa menanam, saat terbaik adalah sekarang. #chinatechnology #teknologichina #china #project211

♬ original sound - ICCT - ICCT
©2026 ICCT.asia