Pada 6 Desember 2009, persetujuan akhirnya keluar.
Beberapa hari kemudian, pada 11 Desember 2009, BAIC menyelesaikan pembayaran.
Nilainya sekitar US$200 juta, atau pada saat itu kira-kira Rp2 triliun.
Lalu apa yang dibawa pulang BAIC dengan uang Rp2 triliun tersebut?
Jawabannya menarik.
Bukan sekadar sebuah mobil.
Wang Dazong pulang ke China membawa sekitar 3,5 ton dokumen teknis, spesifikasi, dan puluhan ribu dokumen yang berkaitan dengan teknologi otomotif Saab.
Dari sinilah proses transfer teknologi itu dimulai. Transfer teknologi modern bukan berarti membeli sebuah teknologi lalu menirunya dari nol.
Mereka membeli pengetahuan, desain, spesifikasi, sistem mesin, dan pengalaman rekayasa yang telah dikembangkan Saab selama bertahun-tahun. Dengan kata lain, mereka membeli waktu.
