Skip to content
ICCT.asia ICCT.asia

  • Home
  • Bandung & China
  • About Us
  • Contact Us
ICCT.asia
ICCT.asia

  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube

Melihat Kemajuan Teknologi China: Antara Kagum Buta atau Curiga Buta

Avatar photo Helmi Himawan, 25 April, 20262 May, 2026

Dalam melihat kemajuan teknologi China dalam tiga atau empat dekade terakhir, banyak orang cenderung terjebak pada dua sikap ekstrem. Dua posisi ini terlihat berbeda, bahkan bertolak belakang, tetapi sebenarnya memiliki satu kesamaan: keduanya sama-sama tidak berusaha memahami proses yang terjadi di baliknya.

Sikap pertama adalah kagum buta. Dalam sudut pandang ini, hampir semua hal yang datang dari China dianggap pasti unggul. Setiap kemajuan dipandang sebagai bukti bahwa China telah melampaui negara-negara lain dalam berbagai bidang teknologi. Robot industri China dianggap lebih maju, mobil listriknya dipuji sebagai masa depan transportasi global, dan perusahaan-perusahaan teknologinya dilihat sebagai simbol dominasi baru dalam ekonomi digital dunia.

Di sisi lain, muncul sikap yang berlawanan: curiga buta. Dalam posisi ini, hampir semua produk atau kemajuan teknologi China dilihat dengan kecurigaan. Label “made in China” sering kali langsung diasosiasikan dengan kualitas rendah, efisiensi yang diragukan, atau desain yang dianggap kurang berkelas. Bahkan, dalam beberapa kasus, muncul berbagai teori konspirasi—mulai dari isu keamanan data hingga kekhawatiran bahwa produk-produk teknologi tersebut digunakan sebagai alat pengawasan oleh negara.

Kedua cara pandang ini, meskipun tampak berbeda, sebenarnya memiliki kelemahan yang sama: keduanya berhenti pada permukaan. Mereka hanya melihat hasil akhir, tanpa berusaha memahami perjalanan panjang yang menghasilkan hasil tersebut.

Padahal, jika kita benar-benar ingin memahami fenomena kebangkitan teknologi China, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar penilaian cepat—baik yang terlalu memuji maupun yang terlalu mencurigai.

Kita tentu tidak bisa menutup mata terhadap berbagai pencapaian yang telah diraih China. Dalam waktu yang relatif singkat, negara ini berhasil membangun kapasitas industri yang sangat besar, memperkuat sektor manufaktur berteknologi tinggi, dan memperluas basis riset ilmiah secara signifikan. Banyak perusahaan teknologi China kini tidak hanya menjadi pemain domestik, tetapi juga memiliki pengaruh global yang nyata.

Namun, pada saat yang sama, kita juga perlu bersikap jujur dan proporsional. Tidak semua teknologi China unggul dalam semua aspek. Dalam banyak bidang, negara-negara lain—terutama di Barat, serta Jepang dan Korea Selatan—masih memiliki keunggulan yang kuat, baik dalam tradisi riset, kualitas rekayasa, maupun kekuatan merek global.

Dengan kata lain, realitasnya jauh lebih kompleks daripada sekadar “China hebat” atau “China bermasalah”.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah: apakah China harus dikagumi atau dicurigai? Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana China bisa sampai ke titik ini?

Bagaimana mungkin sebuah negara yang pada masa lalu sering dipandang tertinggal, kini justru menjadi salah satu pusat inovasi dan manufaktur teknologi dunia? Benarkah China pernah berada dalam posisi yang lebih lemah dibanding Indonesia dalam beberapa indikator pembangunan? Jika benar, apa yang berubah dalam perjalanan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada satu kesadaran penting: kemajuan teknologi tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak elemen yang saling berinteraksi. Untuk memahami China, kita tidak bisa hanya melihat produknya. Kita harus melihat ekosistemnya.

Salah satu konsep yang sering dirujuk untuk menjawab pertanyaan itu adalah triple helix. Ada banyak literatur baik paper maupun buku yang menjelaskan konsep triple helix, salah satunya yang sering dirujuk adalah Etzkowitz & Zhou – “The Triple Helix: University–Industry–Government Innovation and Entrepreneurship” (book, 2017)

Secara garis besar Triple Helix adalah konsep pembangunan inovasi yang menjelaskan bahwa kemajuan teknologi dan ekonomi paling cepat terjadi ketika universitas, industri, dan pemerintah bekerja saling terhubung seperti tiga lilitan heliks. Universitas menghasilkan riset, ilmu pengetahuan, dan talenta; industri mengubah pengetahuan itu menjadi produk, layanan, dan lapangan kerja; sementara pemerintah menciptakan regulasi, pendanaan, serta arah strategis agar kolaborasi berjalan efektif. Jika ketiganya aktif dan saling mendukung, maka lahirlah ekosistem inovasi yang mampu menciptakan perusahaan kuat, teknologi baru, dan pertumbuhan nasional yang berkelanjutan.

Terkait implementasi triple helix pada kasus kemajuan teknologi China, ada satu buku yang sangat menarik dan sedang populer yaitu “Breakneck” karya Dan Wang yang menjelaskan bagaimana China berubah sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir melalui pola pembangunan yang pragmatis, eksperimental, dan sangat dipengaruhi cara berpikir engineer atau insinyur.

Salah satu gagasan pentingnya adalah bahwa China adalah “negara engineer”: banyak pengambil keputusan, manajer industri, birokrat ekonomi, dan pemimpin perusahaan dibentuk oleh latar belakang teknik, sehingga mereka cenderung melihat masalah sebagai sesuatu yang bisa dipecahkan lewat desain sistem, infrastruktur, manufaktur, target, dan eksekusi bertahap.

Dalam kerangka ini, China tidak terlalu sibuk berdebat teori besar, tetapi fokus pada “apa yang bekerja”, lalu memperbesar skala jika berhasil. Karena itu China unggul di bidang seperti transportasi, manufaktur, energi, telekomunikasi, dan industrial upgrading. Intinya: kemajuan industri datang bukan dari slogan, tetapi dari memperbanyak SDM teknis yang mampu mengubah masalah menjadi proyek nyata.

Jadi dalam episode-episode ke depan, saya akan berusaha secara reguler tiap minggu kita update. Kita akan membahas bagaiamana universitas-industri (perusahaan) dan pemerintah di China berinteraksi dan mendukung kemajuan teknologi china. Khususnya pada era 80 dan 90an, karena di sanalah lompatan kemajuan itu terjadi.

Kita perlu melihat bagaimana sistem pendidikan tinggi di China dibangun dan diperkuat. Bagaimana universitas-universitasnya berkembang menjadi pusat riset yang produktif, bukan sekadar institusi pengajaran. Bagaimana laboratorium dan lembaga penelitian didorong untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Kita juga perlu melihat bagaimana kebijakan negara dan reformasi kepemimpinan memainkan peran penting. Dalam banyak kasus, arah kebijakan yang konsisten dalam jangka panjang menciptakan stabilitas dan kejelasan bagi dunia industri dan riset. Hal ini memungkinkan investasi dalam teknologi—terutama riset dan pengembangan—dilakukan dengan lebih berani dan berkelanjutan.

Selain itu, faktor manusia yang mendirikan dan menjalankan perusahaan teknologi juga tidak bisa diabaikan. Munculnya generasi baru pengusaha teknologi yang memiliki karakter berbeda. Mereka tidak hanya fokus pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga berani menginvestasikan dana besar untuk riset dan pengembangan. Dalam banyak kasus, keputusan ini terlihat berisiko dalam jangka pendek, tetapi justru menjadi fondasi bagi keunggulan kompetitif di masa depan.

Juga bagaimana strategi China yang dalam beberapa dekade terakhir berhasil menarik kembali talenta-talenta diaspora yang sebelumnya belajar dan bekerja di luar negeri. Pada saat yang sama, negara ini juga membuka ruang bagi kolaborasi internasional, sehingga terjadi pertukaran pengetahuan yang mempercepat proses pembelajaran nasional.

Kita ketemu di episode berikutnya. Terima kasih.

Bandung 25 April 2026

Ep Industrial Park Update

Post navigation

Previous post
Next post
@icct.asia

Apakah benar teknologi China sudah unggul di dunia? ini pendapat Amerika Serikat sendiri. #china #chinatechnology #teknologichina

♬ original sound - ICCT - ICCT
@icct.asia

Project 211 dan 985 Usaha untuk menjadi world class university di China. Apakah Rp 18 trilliun (USD 2,2 milyar di tahun 2000) itu besar? Pada tahun 1995, saat project 211 mulai, pendapatan fiskal China sekitar USD 75,2 miliar, jadi hanya 3% dari pendapatan negara. Tahun 2017 saat program Double First-class Plan dimulai, pendapatan China sudah mencapai USD 2,69 trilliun (salah satu faktornya adalah ekspor produk teknologi, hasil investasi di pendidikan tinggi). Otomatis anggaran peningkatan kualitas pendidikan tinggi juga segede gaban di 2017. Sebagai perbandingan estimasi pendapatan fiskal Indonesia di 1995 sekitar USD 30,2 miliar. Tahun 2017 menjadi USD 118 miliar. Orang bilang, saat yang paling tepat menanam pohon adalah 70 tahun yang lalu. Tetapi kalau dulu kita lupa menanam, saat terbaik adalah sekarang. #chinatechnology #teknologichina #china #project211

♬ original sound - ICCT - ICCT
©2026 ICCT.asia