Pada puncak kejayaannya, sekitar 30% mainan dunia, 20% smartphone dunia, 20% sweater rajut dunia, dan 10% sepatu olahraga dunia diproduksi di Dongguan. Hampir semua merek global bergantung pada kota ini. Bahkan para pelaku industri memiliki sebuah lelucon: “Kalau Dongguan macet satu hari saja, seluruh dunia akan kekurangan barang.”
Badai datang ketika krisis finansial global 2008 melanda. Permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa merosot tajam sehingga pesanan ekspor anjlok. Ribuan pabrik kehilangan pelanggan dalam hitungan bulan, banyak perusahaan kecil dan menengah gulung tikar, sementara sebagian perusahaan besar mulai memindahkan produksinya ke negara dengan biaya tenaga kerja lebih rendah seperti Vietnam dan Bangladesh.
