Skip to content
ICCT.asia ICCT.asia

  • Home
  • Bandung & China
  • About Us
  • Resources
ICCT.asia
ICCT.asia

  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube

Akses Rahasia Teknologi Robot China Secara Legal

Helmi Himawan, 11 July, 202611 July, 2026

Sebuah kawasan di tenggara pusat kota Beijing, bernama Beijing Economic-Technological Development Area (BDA), atau yang lebih dikenal sebagai Beijing E-Town. Kawasan seluas sekitar 225 kilometer persegi ini merupakan satu-satunya zona pengembangan ekonomi dan teknologi tingkat nasional yang berada langsung di bawah Pemerintah Kota Beijing. Namun menyebutnya sebagai kawasan industri sebenarnya kurang tepat. Beijing E-Town jauh lebih mirip sebuah laboratorium raksasa tempat China merancang masa depan industrinya.

Di sinilah semikonduktor diproduksi, kendaraan tanpa pengemudi diuji di jalan raya, roket swasta dirancang, obat-obatan baru dikembangkan, dan yang paling menarik, robot humanoid generasi baru dilahirkan.

Sebuah Kota yang Memang Dibangun untuk Teknologi

Beijing E-Town bukan muncul secara alami seperti Silicon Valley. Kawasan ini lahir karena sebuah keputusan politik dan ekonomi yang sangat terencana.

Pada awal 1990-an, Beijing menghadapi persoalan klasik yang dialami hampir semua kota besar. Pusat kota semakin padat. Industri manufaktur tradisional memenuhi kawasan perkotaan, menghasilkan polusi, sementara harga tanah terus meningkat. Pada saat yang sama, dunia sedang memasuki era globalisasi. Industri elektronik, komputer, dan teknologi informasi berkembang sangat cepat, sehingga negara-negara mulai berlomba menarik investasi manufaktur berteknologi tinggi.

Alih-alih mempertahankan industri lama di pusat kota, pemerintah kota Beijing mengambil keputusan yang cukup berani. Industri manufaktur tradisional dipindahkan keluar kota, sementara di wilayah Yizhuang dibangun sebuah kawasan baru yang sejak awal memang dirancang sebagai pusat industri teknologi tinggi.

Yizhuang dipilih karena memiliki akses langsung menuju Jalan Lingkar Kelima dan Keenam Beijing, sekaligus terhubung dengan jalur transportasi menuju Pelabuhan Tianjin. Posisi ini memungkinkan bahan baku maupun produk jadi bergerak dengan cepat menuju pelabuhan ekspor.

Pada tahun 1994, pemerintah pusat secara resmi menetapkan kawasan tersebut sebagai National Economic & Technological Development Area (BDA). Status itu memberikan berbagai kemudahan investasi, insentif perpajakan, hingga kebijakan khusus yang membuat perusahaan-perusahaan teknologi berlomba membangun fasilitas riset dan produksinya di sana.

Tiga puluh tahun kemudian, keputusan tersebut terbukti sangat berhasil.

Saat ini lebih dari 26.000 perusahaan dari lebih dari 40 negara beroperasi di Beijing E-Town dengan nilai investasi melampaui US$100 miliar  atau kira Rp. 2000 T. Dari 233 kawasan National Economic and Technological Development Zone seluruh China, Beijing E-Town bahkan menempati peringkat ketiga berdasarkan PDB, mencapai sekitar US$50,68 miliar pada tahun 2024, angka ini dalam rupiah sekira Rp. 916,44 T.

Ekosistem, Bukan Sekadar Kawasan Industri

BDA mengonsolidasikan kekuatannya pada Empat Pilar Industri Utama dan Enam Industri Masa Depan:

  • Integrated Circuit (IC) & Semiconductior:

BDA adalah salah satu basis produksi mikrocip dan semikonduktor terbesar di Tiongkok. Tempat ini menjadi rumah bagi pabrik raksasa SMIC (pembuat cip terbesar Tiongkok) dan BOE Technology (produsen layar elektronik global).

  • Autonomous Vehicle & New Energy (EV):

BDA merupakan High-Level Autonomous Driving Demonstration Zone pertama di Tiongkok. Di sinilah armada taksi tanpa pengemudi (robotaxi) Baidu Apollo, Pony.ai, dan Xiaomi EV diproduksi, diuji, serta dioperasikan secara massal di jalan raya

  • Commercial Aerospacial (E-Town Rocket):

Lebih dari 70% perusahaan roket swasta Tiongkok bermarkas di BDA. Kawasan ini memimpin industri luar angkasa komersial domestik dan sering memecahkan rekor peluncuran satelit swasta.

  • Bio-Pharmacy & General Health:

Menjadi pusat inovasi medis melalui pembangunan International BioPark. Ratusan raksasa farmasi global dan domestik memproduksi obat inovatif serta peralatan medis mutakhir di sini.

  • Robotic & Smart Manufactur:

Berfokus pada pembuatan robot industri, robot humanoid, dan sistem otomatisasi pabrik untuk menyuplai rantai pasok global.

Kota Tempat Robot Belajar Menjadi “Manusia”

Di dalam Beijing E-Town terdapat kawasan khusus bernama ZGC E-Town International Robotics Industrial Park. Di sinilah ambisi China dalam bidang robot humanoid benar-benar terlihat.

Berdiri dua tahun lalu, tepatnya periode 2023-2024, sekarang menjadi rumah lebih dari 300 perusahaan robotika dan AI. Ada perusahaan pembuat sensor, aktuator, motor listrik, kamera, baterai, hingga perusahaan yang mengembangkan Large Language Model untuk otak robot. Semua berada dalam satu ekosistem sehingga proses inovasi berlangsung jauh lebih cepat.

Yang menarik, kawasan ini tidak hanya memiliki pabrik. Mereka juga memiliki “sekolah” bagi robot. Bayangkan sebuah gudang raksasa yang dipenuhi tangga, pintu, meja kerja, perkakas, kotak logistik, bahkan lantai dengan berbagai tekstur. Di tempat inilah ratusan robot dilatih setiap hari. Mereka belajar berjalan, berlari, menaiki tangga, mengangkat barang, menggunakan alat, hingga bekerja sama dengan robot lain.

Bagi manusia, belajar berarti membaca buku atau mendengarkan guru. Bagi robot, belajar berarti mengulang jutaan gerakan sampai kecerdasan buatannya memahami hubungan antara perintah, lingkungan, dan tindakan. Semakin banyak pengalaman yang dimiliki robot, semakin baik pula kemampuannya.

Tiangong: Robot Open Source

Dari kawasan inilah lahir robot humanoid Tiangong.

Robot ini mampu berlari, menjaga keseimbangan di berbagai medan, melewati tangga, bahkan bergerak stabil di permukaan yang tidak rata. Semua kemampuan tersebut diperoleh melalui reinforcement learning, yaitu teknik pembelajaran di mana robot belajar dari pengalaman, bukan sekadar menjalankan program yang telah ditentukan.

Namun kemampuan fisik Tiangong sebenarnya bukan hal yang paling revolusioner. Yang benar-benar mengejutkan adalah keputusan pengembangnya. Alih-alih menyimpan seluruh teknologi tersebut sebagai rahasia dagang, Beijing Humanoid Robot Innovation Center justru menjadikan Tiangong sebagai platform open-source.

Banyak orang salah memahami istilah ini.

Mereka mengira open-source hanya berarti kode programnya bisa diunduh. Padahal yang dibuka jauh lebih besar daripada itu. China membuka desain mekanik robot, struktur rangka, spesifikasi berbagai sendi, sistem operasi, algoritma pengendalian gerakan, model kecerdasan buatan, hingga berbagai dataset pelatihan yang digunakan untuk melatih robot.

Artinya, universitas di Blitar, startup di Brasil, perusahaan di Jerman, atau laboratorium di India dapat mempelajari fondasi robot tersebut tanpa harus memulai semuanya dari nol.

Mereka dapat membuat modifikasi, menambahkan kemampuan baru, bahkan memproduksi robot mereka sendiri secara legal.

Jika dianalogikan, Tiangong bukanlah sebuah mobil. Ia lebih mirip sebuah platform. Ini seperti sistem operasi android untuk Robot. Android adalah

Mengapa China Mau “Memberikan” Teknologinya?

Inilah bagian yang sering disalahpahami. Sekilas, keputusan membuka teknologi terdengar seperti tindakan yang merugikan. Bukankah negara lain nanti bisa menyalin hasil riset China?

Jawabannya bisa ya, tetapi justru di situlah letak strateginya. Bayangkan jika setiap perusahaan di dunia harus menciptakan robot humanoid dari nol. Mereka harus merancang rangka, mengembangkan aktuator, mencari cara agar robot bisa berdiri, menjaga keseimbangan, berjalan, lalu belajar memahami lingkungan. Proses itu bisa memakan waktu bertahun-tahun dengan biaya yang sangat besar.

Akibatnya, jumlah perusahaan robot akan tetap sedikit. Pasar berkembang lambat. Harga robot tetap mahal. China memilih jalan yang berbeda. Mereka menyelesaikan persoalan paling sulit terlebih dahulu, lalu membagikan fondasinya kepada semua orang.

Mengapa?

Karena mereka ingin ribuan perusahaan berhenti menghabiskan waktu menemukan kembali roda yang sudah diciptakan. Sebaliknya, semua perusahaan bisa langsung fokus menciptakan aplikasi. Ada yang membuat robot perawat. Ada yang membuat robot pelayan restoran. Ada yang membuat robot pertanian. Ada yang membuat robot pemadam kebakaran.

Semakin banyak perusahaan menggunakan platform yang sama, semakin besar pula ekosistem yang terbentuk.

Strategi Android untuk Dunia Robot

Kalau strategi ini terasa familier, itu karena dunia teknologi pernah mengalaminya. Google tidak menjadi raksasa karena menjual ponsel. Google menjadi raksasa karena membuka Android.

Samsung, Xiaomi, Oppo, Vivo, Realme, Motorola, bahkan ratusan produsen lain menggunakan sistem operasi yang sama. Setiap perusahaan membuat produk berbeda, tetapi fondasi perangkat lunaknya tetap Android. Semakin banyak perusahaan menggunakan Android, semakin kuat posisi Google.

China tampaknya ingin melakukan hal yang sama pada robot humanoid. Mereka tidak hanya ingin menjual robot. Mereka ingin robot di seluruh dunia menggunakan fondasi teknologi yang dikembangkan di Beijing.

Jika ribuan perusahaan menggunakan desain mekanik Tiangong, sistem operasi Tiangong, standar komunikasi Tiangong, hingga dataset Tiangong, maka secara perlahan standar industri robot dunia akan terbentuk mengikuti platform tersebut.

Dalam ekonomi digital, posisi pembuat standar sering kali jauh lebih kuat daripada pembuat produk. Karena begitu sebuah standar diterima secara luas, seluruh ekosistem akan tumbuh di atasnya. Universitas akan mengajarkannya. Startup akan mengembangkannya. Perusahaan komponen akan membuat produk yang kompatibel dengannya. Pusat pelatihan akan menggunakannya. Akhirnya, seluruh industri bergerak mengikuti arah yang telah ditentukan oleh pembuat platform.

Sampai ketemu minggu depan, Terima kasih.

Bandung, 11 Juli 2027

Ep

Post navigation

Previous post
Next post
@icct.asia

Apakah benar teknologi China sudah unggul di dunia? ini pendapat Amerika Serikat sendiri. #china #chinatechnology #teknologichina

♬ original sound - ICCT - ICCT
@icct.asia

Project 211 dan 985 Usaha untuk menjadi world class university di China. Apakah Rp 18 trilliun (USD 2,2 milyar di tahun 2000) itu besar? Pada tahun 1995, saat project 211 mulai, pendapatan fiskal China sekitar USD 75,2 miliar, jadi hanya 3% dari pendapatan negara. Tahun 2017 saat program Double First-class Plan dimulai, pendapatan China sudah mencapai USD 2,69 trilliun (salah satu faktornya adalah ekspor produk teknologi, hasil investasi di pendidikan tinggi). Otomatis anggaran peningkatan kualitas pendidikan tinggi juga segede gaban di 2017. Sebagai perbandingan estimasi pendapatan fiskal Indonesia di 1995 sekitar USD 30,2 miliar. Tahun 2017 menjadi USD 118 miliar. Orang bilang, saat yang paling tepat menanam pohon adalah 70 tahun yang lalu. Tetapi kalau dulu kita lupa menanam, saat terbaik adalah sekarang. #chinatechnology #teknologichina #china #project211

♬ original sound - ICCT - ICCT
©2026 ICCT.asia