Skip to content
ICCT.asia ICCT.asia

  • Home
  • Bandung & China
  • About Us
  • Resources
ICCT.asia
ICCT.asia

  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube

50 TRILIUN untuk RISET Dapat Apa?

Helmi Himawan, 15 August, 202615 August, 2026

Cerita dari satu-satunya kota yang secara resmi dinyatakan sebagai Kota Sains dan Teknologi China

Mengapa China menjadikan sebuah kota di pedalaman Sichuan sebagai satu-satunya “Science and Technology City” yang ditetapkan resmi oleh pemerintah pusat di Beijing?

—————

Jika berbicara tentang kota teknologi China, nama Shenzhen, Beijing, Shanghai, Hangzhou, atau Hefei mungkin lebih dahulu muncul.

Namun ada sebuah kota yang memiliki status sangat berbeda.

Namanya Mianyang.

Terletak di Sichuan, sekitar 100 kilometer di utara Chengdu, Mianyang bukan kota keuangan terbesar China, bukan pusat perdagangan internasional, dan bukan pula tempat kantor pusat perusahaan teknologi besar yang terkenal.

Tetapi kota ini memiliki sesuatu yang sangat khusus.

Pemerintah China menjadikannya Mianyang sebagai Science and Technology City—dan pemerintah China secara resmi menyebutnya sebagai satu-satunya Science and Technology City yang disetujui oleh negara.

Ini bukan sekadar nama promosi.

Mianyang merupakan sebuah proyek kebijakan nasional.

————

Mianyang memiliki sejarah panjang yang membentang lebih dari 2.200 tahun, menjadikannya salah satu pusat peradaban paling strategis di wilayah China Barat Daya. Sejarah administrasi kota ini dimulai pada tahun 201 SM ketika Dinasti Han mendirikan Kabupaten Fuxian di wilayah ini. Pada masa Dinasti Tang sekitar abad ke 7, wilayah ini berganti nama menjadi Mianzhou dan berkembang menjadi pusat budaya, perdagangan, dan sastra yang makmur.

Sebelum pertengahan abad ke-20, Mianyang bertransisi menjadi pusat perdagangan regional yang menghubungkan jalur transportasi air dan darat di Sichuan utara.

Selama perang dunia II melawan Jepang, posisi Mianyang yang berada di pedalaman menjadikannya tempat pengungsian yang aman bagi institusi pendidikan dan industri yang dipindahkan dari wilayah pesisir timur.

Perubahan tersebut terjadi pada 1960-an.

Pada awal 1960-an, hubungan China dengan Uni Soviet memburuk. China juga menghadapi kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik dengan kekuatan asing.

Pemerintah kemudian menjalankan program besar yang dikenal sebagai Third Front Construction

Logikanya sederhana: Jika perang terjadi, China tidak boleh bergantung pada industri yang terkonsentrasi di wilayah pesisir. Maka berbagai industri strategis, fasilitas penelitian, pabrik, dan tenaga ahli dipindahkan ke pedalaman.

Sichuan menjadi salah satu wilayah utama.

Mianyang menjadi salah satu penerima investasi strategis tersebut.

Singkat cerita, China membangun kapasitas pengetahuan di kota ini. Ilmuwan kemudian datang. Insinyur datang. Laboratorium dibangun. Lembaga penelitian didirikan. Dan perlahan Mianyang memperoleh sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun daripada gedung atau kawasan industri:

Konsentrasi sumber daya manusia teknologi.

Jadi warisan Third Front inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi utama munculnya Mianyang sebagai pusat teknolog seperti sekarang

—————–

Pada tahun 2000, Dewan Negara China secara resmi menganugerahi Mianyang gelar sebagai satu-satunya “Kota Sains dan Teknologi China” (China Science and Technology City).

Alasannya:

1. Konsentrasi Lembaga Riset Tingkat Tinggi

Mianyang merupakan rumah bagi aset ilmiah paling strategis dan krusial milik China. Kota ini menampung 18 lembaga penelitian tingkat nasional. Seperti China Academy of Engineering Physics (CAEP), juga, China Aerodynamics Research and Development Center, pusat riset aerodinamika terbesar di Asia yang menguji teknologi rudal, jet tempur, dan wahana antariksa.

Keberadaan lembaga-lembaga ini membuat Mianyang memiliki densitas atau kepadatan ilmuwan dan insinyur papan atas yang sangat tinggi.

2. Warisan “Two Bombs, One Satellite” (Dua Bom, Satu Satelit)

Secara historis, Mianyang dipilih sebagai jantung dari proyek Third Front Construction pada tahun 1960-an. Pemerintah China sengaja memindahkan industri strategis ke wilayah pedalaman ini demi keamanan geopolitik.

3. Model Percontohan Integrasi Industri Strategi dan Industri Komersial Retail

Gelar ini diberikan untuk menguji cobakan strategi nasional dalam mengubah teknologi strategis menjadi produk komersial massal. Mianyang dinilai paling sukses mengimplementasikan strategi ini. Contoh paling nyata adalah Sichuan Changhong Electric Group, raksasa elektronik yang awalnya memproduksi radar militer, lalu bertransformasi menjadi salah satu produsen televisi dan alat elektronik konsumen terbesar di dunia.

4. Katalis Strategi Pembangunan Wilayah Barat

Pemerintah pusat China membutuhkan satu kota yang kuat di wilayah pedalaman barat untuk memimpin inovasi teknologi, agar kemajuan ekonomi tidak hanya berpusat di wilayah pesisir timur (seperti Beijing, Shanghai, atau Shenzhen).

Mianyang ditunjuk sebagai laboratorium hidup dan percontohan nasional (role model) dalam hal transfer teknologi, inkubasi bisnis rintisan (startup), serta penyerapan talenta global.

Melalui ketetapan resmi dari Pemerintah Pusat China, Mianyang mendapatkan berbagai kebijakan istimewa, subsidi khusus, dan pemotongan pajak yang tidak dimiliki kota-kota setingkatnya di China demi mempercepat riset sains mutakhir

Anggaran Riset 56 Triliun

Untuk mempertahankan posisinya sebagai kota sains, Mianyang mengalokasikan anggaran riset dan percobaan (R&D) tahunan yang sangat masif, yakni mencapai 25,426 miliar yuan (sekitar Rp56 triliun)

Angka ini mencerminkan intensitas R&D sebesar 5,85% dari PDB kota menjadikannya yang tertinggi di Provinsi Sichuan dan jauh melampaui rata-rata nasional China (sekitar 2,68%).

Dampak Ekonomi Lokal bagi Kota Mianyang

Investasi riset yang sangat besar—mencapai sekitar 5,85% dari PDB—menjadi fondasi untuk menghasilkan paten, teknologi, dan inovasi yang kemudian tidak berhenti di laboratorium, tetapi didorong masuk ke sektor sipil dan dikomersialisasikan. Teknologi tersebut selanjutnya diindustrialisasikan melalui perusahaan-perusahaan di HIDZ Mianyang, menciptakan produk dan kapasitas industri baru yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kota.
 
  1. Mesin Pertumbuhan Ekonomi Tercepat: Investasi riset memicu lahirnya kluster industri teknologi tinggi. Hal ini mendongkrak PDB Mianyang hingga menembus 460 miliar yuan, mempertahankan posisinya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di Provinsi Sichuan.
  • Magnet Talenta & Penduduk Berkualitas tinggi: Sektor riset yang hidup menarik ratusan ribu insinyur, ilmuwan, dan ekspatriat domestik untuk menetap di Mianyang. Dampaknya, sektor konsumsi lokal, hunian modern, hingga jaringan sekolah internasional di area perkembangan baru (New Area) tumbuh sangat pesat.
  • Ketahanan Industri dari Guncangan Pasar: Karena produk yang dihasilkan berbasis teknologi tinggi dan kepemilikan paten mandiri, industri Mianyang tidak mudah tergeser oleh persaingan harga komoditas murah. Kota ini berhasil bertransformasi dari sekadar “pangkalan industri strategis” menjadi kota pintar berbasis ekosistem digital.

Mianyang HIDZ

Pilar utama komersialisasi teknologi tinggi di kota ini berada di Mianyang HIDZ (High-tech Industrial Development Zone). Didirikan pada tahun 1992, zona ekonomi khusus ini berfokus pada elektronika informasi, material baru, sensor cerdas, dan manufaktur pintar.

Hingga tahun 2026, Mianyang secara masif memimpin rantai pasok industri masa depan global pada beberapa sektor utama:

  1. Robotika Humanoid: Memproduksi massal robot otonom untuk sektor manufaktur industri melalui ekosistem Science and Technology City New Area.
  2. Teknologi Nuklir Medis: Memanfaatkan keahlian fisika nuklir untuk memproduksi isotop medis dan alat terapi kanker dosis tinggi.
  3. Ekonomi Ketinggian Rendah (LAE): Menjadi basis pengembangan drone logistik komersial dan sistem navigasi otonom.
  4. Generasi Baru Layar Fleksibel: Memasok komponen visual global melalui produksi massal layar AMOLED lipat dan gulung (foldable & rollable displays).
  5. Advanced Materials: Melalui Mianyang GiaStar, sukses memproduksi material magnetik neodymium ramah lingkungan tanpa logam langka berat yang memangkas biaya manufaktur dunia hingga 15–20%.
  6. Embodied AI & Superkomputasi: Didukung oleh China (Mianyang) Science and Technology City Supercomputing Center untuk pemrosesan data AI tingkat lanjut.

Penutup

Apakah kisah Mianyang adalah cerita sederhana yang bisa ditiru hanya dengan menyediakan anggaran besar? Jawabannya jelas tidak. Selama puluhan tahun, Mianyang secara konsisten membangun ekosistem riset, menghubungkan lembaga penelitian dengan universitas dan industri, lalu mendorong hasilnya menjadi teknologi dan produk.

Di banyak negara, anggaran besar dihabiskan untuk program yang tidak jelas arah, prioritas terlalu banyak, dan mekanisme pemanfaatannya tidak terintegrasi.

Mianyang menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata berapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi untuk apa uang itu digunakan dan bagaimana mengubahnya menjadi kemampuan teknologi. Pada akhirnya, investasi R&D adalah untuk membangun kapasitas teknologi yang dapat memperkuat daya saing ekonomi dan kemandirian sebuah bangsa.

Sampai ketemu lagi minggu depan. Terima kasih

Bandung, 15 Agustus 2026

Catatan ICCT:

ICCT mempelajari bagaimana China membangun industrialisasi dan teknologi tinggi—bukan untuk mengagumi secara buta. China menarik dipelajari karena pernah menghadapi banyak keterbatasan yang juga kita kenal: penduduk besar, wilayah luas, kemiskinan, korupsi, dan keterbelakangan teknologi.

Kini China telah menjadi salah satu kekuatan industri dan teknologi terbesar dunia. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana proses tersebut dibangun: kebijakan, kawasan industri, pendidikan, riset, perusahaan, hingga ekosistem inovasinya. Kita perlu memahami perjalanan industrialisasi dan teknologi tinggi China agar dapat melihat pilihan dan kemungkinan yang relevan bagi Indonesia.



@icct.asia

Jika berbicara tentang kota teknologi China, nama Shenzhen, Beijing, Shanghai, Hangzhou, atau Hefei mungkin lebih dahulu muncul. Namun ada sebuah kota yang memiliki status sangat berbeda. Namanya Mianyang. Terletak di Sichuan, sekitar 100 kilometer di utara Chengdu, Mianyang adalah satu-satunya “Science and Technology City” di China yang resmi disetujui oleh negara dan tercantum dalam dokumen negara. Anggaran Riset 56 Triliun Mianyang mengalokasikan anggaran riset dan percobaan (R&D) tahunan yang sangat masif, yakni mencapai 25,426 miliar yuan (sekitar Rp56 triliun). Angka ini mencerminkan intensitas R&D sebesar 5,85% dari PDB kota menjadikannya yang tertinggi di Provinsi Sichuan dan jauh melampaui rata-rata nasional China (sekitar 2,68%). Dampak Ekonomi Lokal bagi Kota Mianyang Investasi riset yang sangat besar ini menjadi fondasi untuk menghasilkan paten, teknologi, dan inovasi yang kemudian tidak berhenti di laboratorium, tetapi didorong masuk ke sektor sipil dan dikomersialisasikan. Teknologi tersebut selanjutnya diindustrialisasikan melalui perusahaan-perusahaan di HIDZ Mianyang, menciptakan produk dan kapasitas industri baru yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kota. Catatan ICCT: ICCT mempelajari bagaimana China membangun industrialisasi dan teknologi tinggi—bukan untuk mengagumi secara buta. China menarik dipelajari karena pernah menghadapi banyak keterbatasan yang juga kita kenal: penduduk besar, wilayah luas, kemiskinan, korupsi, dan keterbelakangan teknologi. Kini China telah menjadi salah satu kekuatan industri dan teknologi terbesar dunia. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana proses tersebut dibangun: kebijakan, kawasan industri, pendidikan, riset, perusahaan, hingga ekosistem inovasinya. Kita perlu memahami perjalanan industrialisasi dan teknologi tinggi China agar dapat melihat pilihan dan kemungkinan yang relevan bagi kita. #chinatechnology #teknologichina #mianyang

♬ original sound – ICCT – ICCT
1

Post navigation

Previous post
@icct.asia

Apakah benar teknologi China sudah unggul di dunia? ini pendapat Amerika Serikat sendiri. #china #chinatechnology #teknologichina

♬ original sound - ICCT - ICCT
@icct.asia

Project 211 dan 985 Usaha untuk menjadi world class university di China. Apakah Rp 18 trilliun (USD 2,2 milyar di tahun 2000) itu besar? Pada tahun 1995, saat project 211 mulai, pendapatan fiskal China sekitar USD 75,2 miliar, jadi hanya 3% dari pendapatan negara. Tahun 2017 saat program Double First-class Plan dimulai, pendapatan China sudah mencapai USD 2,69 trilliun (salah satu faktornya adalah ekspor produk teknologi, hasil investasi di pendidikan tinggi). Otomatis anggaran peningkatan kualitas pendidikan tinggi juga segede gaban di 2017. Sebagai perbandingan estimasi pendapatan fiskal Indonesia di 1995 sekitar USD 30,2 miliar. Tahun 2017 menjadi USD 118 miliar. Orang bilang, saat yang paling tepat menanam pohon adalah 70 tahun yang lalu. Tetapi kalau dulu kita lupa menanam, saat terbaik adalah sekarang. #chinatechnology #teknologichina #china #project211

♬ original sound - ICCT - ICCT
©2026 ICCT.asia