China meyakini industrialisasi sebagai jalan utama menuju kemajuan karena terbukti mampu melipatgandakan produktivitas, menciptakan lapangan kerja massal, dan membangun kemandirian ekonomi. Bagi kepemimpinan China, sektor manufaktur bukan sekadar pilihan ekonomi, melainkan fondasi kedaulatan negara dan alat utama untuk mengangkat ratusan juta rakyat dari kemiskinan.
Kali ini kita menuju sebuah kota di barat laut China, tepatnya kota Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu. Kita lewatkan terlebih dahulu cerita tentang kuliner kota ini yang mendunia, yaitu Lanzhou Lamian atau Lanzhou Beef Noodle. Kali ini kita akan mencari tahu bagaimana proses industrialisasi teknologi tinggi terjadi di kota ini.
Terjepit Gunung dan Kehabisan Ruang
Secara historis, Lanzhou telah menjadi kota penting sejak Dinasti Han (sekitar abad ke-2 SM), ketika kota ini berfungsi sebagai pusat perdagangan utama di Jalur Sutra. Namun memasuki abad ke-21, kota ini menghadapi jalan buntu dalam pembangunannya.
Kota lama Lanzhou terletak di sebuah lembah sempit berbentuk memanjang yang diapit oleh Sungai Kuning (Yellow River) dan pegunungan batu serta perbukitan tanah kuning (Loess Plateau). Akibatnya, Lanzhou menjadi salah satu kota paling padat dan berpolusi di China. Saat ekonomi pesisir timur China meroket, Lanzhou tertinggal jauh karena kehabisan lahan datar untuk membangun kawasan industri modern.
Pada tahun 2012, Lanzhou New Area disetujui oleh Dewan Negara China (State Council) sebagai kawasan pembangunan ekonomi khusus tingkat nasional kelima, sekaligus menjadi kawasan pembangunan baru tingkat nasional pertama di wilayah barat laut China.
Daripada merenovasi kota lama yang sudah sesak, mereka memutuskan untuk memindahkan pusat pertumbuhan ekonomi ke wilayah baru yang berjarak sekitar 30 kilometer ke arah utara. Masalahnya, wilayah baru tersebut adalah hamparan perbukitan tanah kuning yang kering, tandus, dan tidak berpenghuni.
Meratakan 700 Bukit
Proyek raksasa ini dinamakan Lanzhou New Area. Di bawah pengawasan ketat pemerintah, proyek ini meluncurkan fase konstruksi yang menyerupai film fiksi ilmiah.
Ribuan alat berat, buldoser, dan ribuan pekerja dikerahkan ke lokasi. Tugas mereka hanya satu: meratakan lebih dari 700 bukit tanah gundul. Miliaran meter kubik tanah dipindahkan untuk mengisi lembah-lembah di sekitarnya hingga membentuk sebuah dataran raksasa seluas ratusan kilometer persegi.
Dalam waktu singkat, lanskap yang dulunya menyerupai permukaan planet Mars yang gersang berubah total. Melalui foto satelit, dunia menyaksikan transformasi dramatis: garis-garis perbukitan alami perlahan menghilang, digantikan oleh pola kotak-kotak sempurna dari jaringan jalan raya delapan lajur yang sangat lebar.
Menjadi Hub Baterai Mobil Listrik Dunia
Banyak kritikus internasional awalnya skeptis dan menjuluki proyek ini sebagai calon “kota hantu” (ghost town) baru di China—sebuah kota megah yang dibangun tetapi tidak memiliki penghuni. Namun China memiliki rencana jangka panjang yang sangat matang untuk Lanzhou New Area. Kawasan ini tidak dirancang sebagai kawasan permukiman biasa, melainkan sebagai pusat industri strategis bernilai tinggi.
Pemerintah China menyuntikkan insentif besar-besaran untuk menarik perusahaan-perusahaan teknologi. Kini wilayah yang dulunya tandus tersebut telah menjelma menjadi salah satu pusat teknologi komponen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia.
Lanzhou New Area menjadi rumah bagi pabrik-pabrik canggih yang memproduksi copper foil berkinerja tinggi, yaitu lembaran tembaga ultra-tipis setebal 4,5 mikron atau sekitar setengah ketebalan rambut manusia. Material ini merupakan komponen krusial dalam struktur anoda baterai kendaraan listrik modern.
Berkat teknik pemrosesan yang canggih, material ultra-tipis ini tetap mampu mempertahankan kepadatan energi dan kekuatan tarik yang tinggi. Dengan menggunakan copper foil ini sebagai komponen utama, generasi baru baterai kendaraan listrik dapat dibuat lebih ringkas sekaligus memiliki jarak tempuh yang lebih jauh.
Pasokan bahan baku tembaga yang stabil di Gansu memungkinkan peningkatan kapasitas produksi secara cepat. Selain itu, melimpahnya sumber energi angin dan tenaga surya di provinsi ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan listrik hijau dalam proses produksi. Hal ini tidak hanya menurunkan biaya produksi, tetapi juga menjadi fondasi penting untuk ekspor ke pasar seperti Uni Eropa yang mulai menerapkan kebijakan tarif karbon.
Dalam beberapa tahun terakhir, Lanzhou New Area mengalami pertumbuhan jumlah badan usaha yang sangat pesat, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan melebihi 20 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh hadirnya perusahaan-perusahaan berteknologi maju yang memiliki potensi pasar besar dan pengaruh ekonomi yang signifikan, sehingga memperkuat perkembangan kawasan tersebut.
Gerbang Logistik Internasional
Tidak hanya menjadi dapur produksi komponen teknologi, Lanzhou juga memanfaatkan letak geografisnya di tengah daratan untuk memperkuat posisinya dalam jalur perdagangan global. Pemerintah membangun pelabuhan logistik darat raksasa, yaitu Lanzhou Land Logistics Port.
Lanzhou Land Logistics Port (juga dikenal sebagai International Land Port of Gansu atau ILPL) ini mulai beroperasi secara resmi pada Mei 2017
Kota yang dulunya terisolasi ini kini menjadi titik kumpul utama jaringan kereta kargo internasional China-Europe Railway Express. Produk-produk teknologi dan manufaktur yang dirakit di Lanzhou dapat langsung dikirim menggunakan kereta kargo melintasi Asia Tengah dan Timur Tengah hingga mencapai pasar Eropa tanpa harus melalui pelabuhan laut.
Keberhasilan dari Sebuah Tekad
Lanzhou New Area merupakan bukti nyata dari kebijakan Go West yang agresif dari China. Di saat banyak negara berpikir berkali-kali untuk membangun infrastruktur di medan yang sulit, China memilih mengubah bentuk bentang alam itu sendiri demi kepentingan ekonomi dan industri masa depan.
Proyek ini memang menyisakan perdebatan mengenai dampak lingkungan jangka panjang terhadap ekosistem tanah kuning di barat laut China. Namun secara fungsi ekonomi, Lanzhou telah berhasil membuktikan bahwa dengan perencanaan yang matang dan eksekusi infrastruktur yang luar biasa besar, tanah tandus yang miskin pun dapat diubah menjadi motor penggerak teknologi.
Dari tahun 2011 hingga 2023, produk domestik bruto (PDB) regional Lanzhou New Area meningkat dari kurang dari 500 juta yuan menjadi 37,5 miliar yuan.
Lanzhou juga merupakan salah satu pusat penting penelitian dan pendidikan di wilayah barat laut China setelah Xi’an. Kota ini termasuk dalam 50 kota teratas dunia berdasarkan output penelitian ilmiah menurut Nature Index. Lanzhou menjadi rumah bagi berbagai institusi pendidikan dan penelitian, antara lain Lanzhou University, Northwest Normal University, Lanzhou University of Technology.
Cukup sekian cerita industrialisasi dari kota Lanzhou, kita ketemu lagi minggu depan.
Bandung, 13 Juni 2026
