Pada dekade pertama abad ke-21, Kota Xinyu yang terletak di pedalaman Provinsi Jiangxi, China, mendadak menjadi buah bibir dunia. Kota yang semula hanya dihuni sekitar 1,1 juta penduduk dan dikenal sebagai pusat peleburan baja tradisional bertransformasi dalam semalam menjadi “Ibu Kota Energi Baru China”. Jutaan panel surya diproduksi dari wilayah ini untuk menerangi daratan Eropa dan Amerika.
Namun, kilau industri fotovoltaik (PV) di Xinyu ternyata tidak bertahan lama. Kejatuhannya yang dramatis menyisakan salah satu cerita kegagalan klaster industri paling ikonik sekaligus menjadi pelajaran mahal bagi strategi ekonomi modern.
