Skip to content
ICCT.asia ICCT.asia

  • Home
  • Bandung & China
  • About Us
  • Resources
ICCT.asia
ICCT.asia

  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube

GANTI MESIN EKONOMI, Jangan Terlambat.

Helmi Himawan, 3 October, 202610 October, 2026

Dalam beberapa episode kita telah membahas keberhasilan kota-kota di China melakukan transformasi, khususnya dari ekonomi berbasis sumber daya alam, seperti minyak bumi atau batubara, menjadi industri teknologi tinggi.

Seperti kita tahu, pada awal keterbukaan ekonomi China di awal 80-an sampai sekitar awal 2000-an, banyak kota-kota di daerah inland atau pedalaman — maksudnya bukan kota pesisir — yang mengandalkan ekonominya dari hasil alam.

Secara ekonomi, kota-kota tersebut berhasil. Pembangunan pesat dan pertumbuhan ekonomi pada era 90-an dan 2000-an banyak ditopang oleh pertambangan, energi dan industri berat. Bahkan di beberapa kota, ketergantungannya sangat ekstrem.

Contohnya Fuxin, di Provinsi Liaoning. Pada tahun 2000, industri batubara dan listrik menyumbang sekitar 76% dari total output industri kota tersebut. Fuxin benar-benar merupakan kota yang ekonominya dibangun di atas batubara.

Tetapi menjelang akhir 90-an, mulai semakin jelas bahwa model pembangunan seperti ini mempunyai biaya lingkungan yang sangat besar.

Linfen, di Provinsi Shanxi, adalah salah satu contoh paling ekstrem. Pada pertengahan 2000-an, kota ini dikenal sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di China, akibat kombinasi pertambangan batubara, pembakaran batubara, industri kokas, peleburan dan industri berat lainnya. Bahkan laporan pada masa itu menggambarkan Linfen sebagai salah satu kota paling tercemar di dunia.

Persoalannya bukan hanya udara. Kota-kota pertambangan juga menghadapi kerusakan lahan, kawasan tambang yang ditinggalkan, penurunan kualitas air, limbah industri dan struktur ekonomi yang terlalu bergantung pada satu komoditas.

Pemerintah China sendiri pada 2007 secara resmi mengakui bahwa kota-kota berbasis sumber daya menghadapi masalah ketidakseimbangan struktur ekonomi, pengangguran, lemahnya industri pengganti, serta kerusakan lingkungan yang serius.

Menghadapi kondisi ini, beberapa kota mulai mencoba mengubah arah ekonominya.

Tujuannya bukan hanya mengurangi polusi, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam sebelum sumber daya tersebut habis atau kebijakan lingkungan semakin ketat.

Jadi, kalau kita sederhanakan, kota-kota tersebut seperti sedang membeli waktu untuk membangun ekonomi baru.

Mereka masih memiliki pendapatan dari batubara, minyak atau mineral. Dana tersebut kemudian bisa digunakan untuk membangun infrastruktur, kawasan industri baru, pendidikan, energi baru, pariwisata dan sektor jasa.

Jadi transformasinya tidak hanya satu arah. Ada kota yang masuk ke pariwisata, ada yang mengembangkan industri teknologi dan manufaktur, ada yang masuk ke energi baru, dan ada pula yang memperbesar sektor jasa.

Fuxin, misalnya, mulai mengembangkan industri pengganti dan energi baru. Salah satu hasilnya adalah perkembangan energi angin yang sangat pesat; kapasitas terpasang tenaga anginnya meningkat dari hanya 49 MW pada 2005 menjadi 2.094 MW pada 2011.

Datong, kota batubara di Shanxi, mengambil jalur yang berbeda. Selain melakukan restrukturisasi industri dan mengembangkan energi surya, Datong juga mengembangkan pariwisata dengan memanfaatkan warisan sejarah dan budaya kota.

Artinya, sebelum tekanan lingkungan mencapai puncaknya, sejumlah kota sebenarnya sudah mulai mencari mesin pertumbuhan kedua.

Dan kemudian datang perubahan besar dari pemerintah pusat.

Sejak 2013, pada era Xi Jinping, pengendalian polusi menjadi jauh lebih ketat dan sistematis. Salah satu tonggaknya adalah Air Pollution Prevention and Control Action Plan yang dikeluarkan Dewan Negara pada 2013. Targetnya antara lain menurunkan konsentrasi partikulat di kota-kota China, memperketat pengendalian industri berpolusi tinggi, mengurangi penggunaan batubara, memperketat standar lingkungan dan mempercepat penutupan atau transformasi kapasitas yang tidak memenuhi standar.

Jadi ketika tekanan terhadap batubara, industri berat dan aktivitas yang menghasilkan polusi semakin besar, sebagian kota sudah memiliki alternatif ekonomi yang mulai tumbuh.

Inilah yang menarik.

Transformasi itu bukan sekadar mematikan industri lama. Tetapi membangun industri baru sebelum industri lama benar-benar tidak bisa lagi menjadi sandaran ekonomi

Pertanyaannya, apakah ada kota-kota lain di China yang terlambat melakukan transformasi ekonomi?

Jawabannya: ada.

Dan ini penting untuk kita pahami, karena transformasi ekonomi di China tidak selalu berjalan mulus dan tidak semua kota berhasil melakukannya pada waktu yang tepat.

Pemerintah China sendiri menggunakan istilah resource-exhausted cities, yaitu kota-kota yang ekonominya sangat bergantung pada sumber daya alam dan kemudian menghadapi penurunan produksi karena cadangan sumber dayanya menipis.

Kota-kota seperti ini banyak ditemukan di Northeast China, Shanxi, Inner Mongolia, Gansu dan wilayah-wilayah lain yang sejak lama menjadi basis pertambangan dan energi.

Ketika tambang mulai menurun, industri lama tidak lagi kompetitif, sementara regulasi lingkungan semakin ketat, persoalannya bukan sekadar kehilangan sumber daya.

Yang ikut hilang adalah pekerjaan, pendapatan pemerintah daerah, investasi, bahkan penduduk.

Salah satu contoh paling ekstrem adalah Yumen, di Gansu.

Yumen merupakan salah satu tempat paling penting dalam sejarah industri minyak China. Pada masa kejayaannya, ladang minyak Yumen pernah menghasilkan sekitar 90% produksi minyak China. Pada era 1980-an, kota tuanya dihuni lebih dari 130.000 orang.

Tetapi ketika cadangan minyak mulai menurun pada akhir 1990-an, ekonomi kota ikut merosot. Perusahaan tutup, sebagian kantor pemerintahan pindah, dan penduduk meninggalkan kota.

Pemerintah akhirnya membangun pusat kota baru sekitar 70 kilometer dari kota lama.

Akibatnya, kota lama Yumen menjadi simbol kota yang terlambat melakukan transformasi. Dari lebih dari 130.000 penduduk pada masa kejayaannya, kini jumlah penduduk di kota lama tersebut tinggal kurang dari 20.000 orang. Bangunan-bangunan lama yang terbengkalai kemudian membuat Yumen sering disebut sebagai ghost town.

Tetapi cerita Yumen ternyata belum selesai. Justru setelah terlambat, kota ini mencoba melakukan transformasi kedua dengan mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin.

Contoh lainnya adalah Hegang di Heilongjiang. Hegang adalah kota batubara tua di Northeast China. Selama puluhan tahun, batubara menjadi mesin utama ekonominya.

Ketika industri batubara mengalami penurunan, Hegang menghadapi kombinasi masalah yang sangat berat: pendapatan dari sektor lama menurun, populasi menyusut, harga properti jatuh dan keuangan pemerintah daerah mengalami tekanan.

Pada 2021, pemerintah Hegang bahkan membatalkan rencana perekrutan pegawai pemerintah tingkat bawah karena kondisi keuangannya mengalami perubahan signifikan akibat proses restrukturisasi fiskal.

Jadi kalau kita melihat Hegang, kita bisa melihat sisi lain dari transformasi ekonomi China:

ketika transformasi dilakukan terlambat, pemerintah tidak lagi punya kemewahan untuk memilih waktu.

Mereka harus melakukan transformasi sambil menghadapi penurunan penduduk, lahan industri yang terbengkalai, keterbatasan fiskal dan berkurangnya aktivitas ekonomi.

Tetapi Hegang juga tidak berhenti di situ.

Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini mulai melakukan rehabilitasi kawasan bekas tambang, pengembangan pariwisata, ekonomi berbasis ekologi dan pemanfaatan kembali lahan industri yang terbengkalai.

Jadi Hegang sekarang mencoba melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit:

bukan hanya mencari industri baru, tetapi terlebih dahulu memperbaiki kota yang rusak akibat industri lama.

Dan dari sini kita bisa melihat bahwa transformasi ekonomi China sebenarnya mempunyai dua cerita. Ada kota seperti Fuxin, Datong atau Daqing yang relatif lebih awal melakukan diversifikasi. Tetapi ada juga Yumen dan Hegang yang terlambat, sehingga harus melakukan transformasi ketika mesin ekonomi lamanya sudah kehilangan tenaga.

Bedanya sangat besar.

Kota yang melakukan transformasi lebih awal masih memiliki uang dari industri lama untuk membiayai industri baru.

Sedangkan kota yang terlambat harus melakukan transformasi ketika uangnya sudah berkurang, penduduknya sudah pergi, dan kawasan industrinya sudah terlanjur rusak.

Karena itu, keberhasilan transformasi sebuah kota bukan hanya soal apa industri barunya, tetapi juga soal kapan kota tersebut mulai berubah.

Dan mungkin inilah pelajaran paling menarik dari pengalaman kota-kota di China:

jangan menunggu sumber daya habis untuk mulai mencari sumber pertumbuhan yang baru.

Sampai ketemu lagi minggu depan. Terima kasih

Bandung, 03 Oktober 2026

1

Post navigation

Previous post
Next post
@icct.asia

Apakah benar teknologi China sudah unggul di dunia? ini pendapat Amerika Serikat sendiri. #china #chinatechnology #teknologichina

♬ original sound - ICCT - ICCT
@icct.asia

Project 211 dan 985 Usaha untuk menjadi world class university di China. Apakah Rp 18 trilliun (USD 2,2 milyar di tahun 2000) itu besar? Pada tahun 1995, saat project 211 mulai, pendapatan fiskal China sekitar USD 75,2 miliar, jadi hanya 3% dari pendapatan negara. Tahun 2017 saat program Double First-class Plan dimulai, pendapatan China sudah mencapai USD 2,69 trilliun (salah satu faktornya adalah ekspor produk teknologi, hasil investasi di pendidikan tinggi). Otomatis anggaran peningkatan kualitas pendidikan tinggi juga segede gaban di 2017. Sebagai perbandingan estimasi pendapatan fiskal Indonesia di 1995 sekitar USD 30,2 miliar. Tahun 2017 menjadi USD 118 miliar. Orang bilang, saat yang paling tepat menanam pohon adalah 70 tahun yang lalu. Tetapi kalau dulu kita lupa menanam, saat terbaik adalah sekarang. #chinatechnology #teknologichina #china #project211

♬ original sound - ICCT - ICCT
©2026 ICCT.asia