Reformasi ekonomi yang dimulai Deng Xiaoping pada akhir 1970-an secara perlahan mengalihkan arus investasi ke kota-kota pesisir. Shenzhen, Guangzhou, Shanghai menjadi magnet baru. Harbin, dengan lokasinya yang terpencil dan warisan industri berat yang padat modal, tertinggal.
Memasuki 1990-an, masalah semakin menumpuk. Perusahaan-perusahaan milik negara yang menjadi tulang punggung ekonomi kota ini semakin sulit bersaing di era pasar bebas. Pemuda-pemuda berbakat memilih merantau ke pesisir. Pertumbuhan ekonomi melambat. Kawasan Timur Laut China mulai disebut dengan julukan yang tidak menyenangkan: China’s Rust Belt — sabuk karat, cermin dari kota-kota industri lama yang kehilangan daya saing di seluruh dunia.
