Skip to content
ICCT.asia ICCT.asia

  • Home
  • Bandung & China
  • About Us
  • Resources
ICCT.asia
ICCT.asia

  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube

LEDAKAN INDUSTRI ANTARIKSA KOMERSIAL

Helmi Himawan, 26 September, 202626 September, 2026

BISNIS TEKNOLOGI SENILAI Rp. 20.000 T

Fangchenggang adalah sebuah kota pelabuhan di bagian selatan China, sedikit ke barat, di Provinsi Guangxi. Kota ini menghadap Teluk Beibu dan berhadapan langsung dengan Vietnam—jaraknya hanya sekitar 50 km dari perbatasan Vietnam—sehingga menjadi salah satu pintu China yang paling dekat dengan ASEAN.

Luas wilayahnya sekitar 6.200 km², kira-kira setara Kabupaten Banyuwangi, dengan penduduk sekitar 1 juta jiwa. Kota ini mulai dibangun sebagai pelabuhan strategis pada 1968 dan resmi menjadi kota tingkat prefektur pada 1993. Dari pelabuhan, Fangchenggang kemudian berkembang menjadi kota industri dengan basis baja, logam, energi, bahan kimia, dan manufaktur.  Pelabuhan Fangchenggang menangani lebih dari 200 juta ton barang per tahun.

Kedekatannya dengan Vietnam dan ASEAN membuat Fangchenggang sejak awal berkembang sebagai gerbang perdagangan dan industri China menuju Asia Tenggara. Dan kini, setelah puluhan tahun membangun industri berat, kota ini mulai membidik industri yang sama sekali berbeda: commercial aerospace utk pasar negara-negara ASEAN. Bayangkan ini hanya sebuah kota, bukan provinsi atau negara. Sebuah kota yang ingin menjadi pemain industri roket dan satelit.

——–

Pada bulan Oktober 2025 lalu, dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di tengah gurun Gobi, satelit “Beibu Gulf No.1” melesat menuju orbit. Beberapa saat kemudian, ketika pusat kendali misi mengonfirmasi bahwa satelit tersebut berhasil memasuki orbit yang telah ditentukan, tepuk tangan pun pecah di sebuah ruang konferensi milik Fangchenggang City Investment Development Group Co. di Fangchenggang, Provinsi Guangxi, China selatan.

Satelit “Beibu Gulf No.1” dimiliki oleh perusahaan tersebut dan menggunakan hak kekayaan intelektual yang mereka miliki sendiri. Satelit ini dikembangkan di bawah koordinasi keseluruhan AIRSAT Technology Group.

AIRSAT Technology Group atau juga dikenal sebagai Zhongke Satellite Technology Group adalah perusahaan komersial antariksa yang didirikan pada Desember 2020 oleh Aerospace Information Research Institute of the Chinese Academy of Sciences (AIRCAS)

AIRSAT Technology Group dan pemerintah kota Fangchenggang bekerjasama dalam pembangunan infrastruktur kedirgantaraan komersial dan konstelasi satelit regional. Singkatnya, Fangchenggang bertindak sebagai investor, wilayah operasional strategis, dan gerbang geografis bagi AIRSAT untuk mengekspor layanan data satelit ke negara-negara ASEAN (seperti pemantauan kelapa sawit di Indonesia atau klien di Malaysia dan Vietnam).

China sadar bahwa negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) memiliki kebutuhan data satelit yang sangat masif—mulai dari pelacakan cuaca, pemetaan maritim, manajemen bencana, hingga internet broadband—namun belum semua negara memiliki kapasitas meluncurkan satelit sendiri. Pemerintah memosisikan Fangchenggang sebagai hub integrasi teknologi luar angkasa hulu-hilir yang ditujukan khusus mengekspor layanan data ke pasar Asia Tenggara.

Kerjasama AIRSAT Technology Group dan pemerintah kota Fangchenggang ini diwujudkan dengan pembangunan Fangchenggang Zhongke Satellite Aerospace Information Industry Base. Proyek ini menelan total investasi sekitar 1,2 miliar yuan, kurang lebih Rp. 3,6 triliun. Tidak mahal kan ya, untuk ukuran uang negara. Area commercial aerospace industrial park ini direncanakan seluas 80 hektare, untuk menarik proyek-proyek manufaktur satelit dan roket, baik di sektor hulu maupun hilir. Info terbaru Fangchenggang bahkan telah memperoleh dan memenuhi pesanan komersial yang mencakup ekspor satelit lengkap ke Malaysia.

Selain itu di lepas pantai Fangchenggang akan dibangun lokasi peluncuran satelit. Sebagai kota pesisir selatan, Fangchenggang diuntungkan secara alami untuk mendukung industri commercial space berbasis laut (sea-based launch):

  • Memiliki lebih dari 300 hari cuaca cerah yang layak per tahun, ideal untuk operasional peluncuran dan penjejakan objek terbang.
  • Wilayah perairan lautnya sangat luas dan terbuka, menjadikannya lokasi ideal untuk mendukung infrastruktur peluncuran roket dari kapal lepas pantai serta pemulihan komponen roket yang kembali (rocket recovery).

————

Para pengamat industri mencatat bahwa, didorong oleh dukungan kebijakan, inovasi teknologi dan investasi modal, sektor antariksa komersial China kini memasuki periode pertumbuhan yang cepat. Kota-kota pesisir China seperti Fangchenggang semakin memanfaatkan keunggulan geografis berupa lintang rendah dan konektivitas transportasi untuk membangun klaster industri antariksa komersial.

Jumlah total peluncuran antariksa China diperkirakan akan melebihi 100 peluncuran pada 2026, termasuk lebih dari 60 peluncuran komersial. Perusahaan roket swasta diperkirakan akan menjalankan lebih dari 30 misi, menurut laporan Securities Times.

Para analis industri mengatakan bahwa seiring meningkatnya kebutuhan peluncuran, perluasan dari lokasi-lokasi peluncuran yang sudah ada dan pembangunan lokasi peluncuran baru akan menjadi salah satu arah penting bagi pertumbuhan industri antariksa China di masa depan.

Ada 2 hal penting bagi daerah yang ingin mengembangkan industri antariksa komersial, yaitu infrastruktur transportasi dan kondisi keselamatan. Kedua faktor tersebut dapat dipenuhi oleh kota-kota pesisir China.

Pada 28 Mei, sebuah klaster industri antariksa bernama Aerospace Town di Guangzhou, Provinsi Guangdong, menggelar upacara peletakan batu pertama.

Proyek tersebut memiliki total investasi yang direncanakan sebesar 5 miliar yuan (sekitar Rp 14 T) dan akan berfokus pada sistem transportasi antariksa yang dapat digunakan kembali, manufaktur satelit dan berbagai aplikasi terkait. Nilai output industri kawasan ini diperkirakan mencapai 50 miliar yuan (Rp. 140-an T). Tahap pertama dijadwalkan selesai pada Juli tahun depan.

Shanghai juga telah mengumumkan rencana membangun klaster industri antariksa komersial dengan rantai lengkap di Distrik Minhang. Klaster ini akan mencakup penelitian dan pengembangan, manufaktur, layanan peluncuran, operasi dan aplikasi. Shanghai menargetkan pembangunan sistem terpadu yang mencakup produksi, manufaktur dan layanan peluncuran pada 2030, dengan kapasitas tahunan mencapai 150 roket dan 500 satelit.

Pada Oktober 2025, Provinsi Shandong di China timur mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk mempercepat pengembangan industri antariksa komersial berkualitas tinggi. Rencana tersebut menargetkan terbentuknya rantai industri yang relatif lengkap pada 2027, dengan nilai industri antariksa komersial mencapai 50 miliar yuan (Rp. 140-an T).

Contoh lain, Provinsi Hainan mengembangkan Wenchang International Aerospace City sebagai klaster industri antariksa yang mencakup roket, satelit, peluncuran, dan data. Kawasan ini memiliki zona industri seluas sekitar 1.200 hektare, sementara Satellite Super Factory ditargetkan mampu memproduksi 1.000 satelit per tahun dengan investasi sekitar 1,09 miliar yuan (Rp2,4 T). Hingga 2026, lebih dari 700 perusahaan antariksa telah berada di Wenchang, menunjukkan bagaimana kota ini mulai membangun ekosistem industri antariksa dari fasilitas peluncuran.

————–

Ledakan industri antariksa komersial China sebenarnya baru dimulai sekitar 2014, ketika pemerintah Beijing membuka sektor antariksa bagi investasi swasta. Kebijakan ini menjadi titik balik: dalam beberapa tahun kemudian bermunculan ratusan perusahaan baru yang bergerak di bidang roket, satelit, komponen, penginderaan jauh, hingga aplikasi data antariksa. Dari sekitar 400 perusahaan commercial space yang tercatat dan aktif pada 2023, jumlahnya kemudian menembus 600 perusahaan pada akhir 2025.

Tahun 2025, pemerintah mulai membangun “jalan tol” regulasinya. China National Space Administration (CNSA) membentuk Commercial Space Department khusus untuk mengawasi dan mendorong perkembangan sektor ini, sekaligus mengeluarkan rencana 2025–2027 untuk membuka lebih banyak akses perusahaan komersial terhadap fasilitas negara, termasuk stasiun telemetry, tracking and control, fasilitas pengujian mesin roket, serta fasilitas simulasi lingkungan antariksa. Tahun 2026, pemerintah melangkah lebih jauh: CNSA bersama State Administration for Market Regulation (SAMR) menerbitkan Commercial Space Standards System (Version 1.0). Sistem ini mencakup enam bidang—tata kelola industri, R&D dan manufaktur, peluncuran serta telemetry-tracking-and-command, layanan aplikasi antariksa, standar dasar, serta fasilitas dan peralatan—dengan lebih dari 1.000 standar yang direncanakan. Menurut CNSA, standar tersebut tidak dibuat dari nol, melainkan dibangun di atas pengalaman China selama 70 tahun di bidang antariksa, sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan perkembangan model bisnis baru.

Dengan kata lain, China kini tidak lagi sekadar membuka pintu bagi perusahaan swasta; China sedang membangun seluruh infrastruktur regulasi agar antariksa bisa berkembang sebagai sebuah industri massal.

Menurut estimasi Soochow Securities, perusahaan BUMN besa bidang keuangan China, pasar antariksa komersial China diperkirakan meningkat dari sekitar 1,2 triliun yuan (Rp 3.200 triliun) pada 2024 menjadi 4,8 triliun yuan (Rp12 ribu triliun) pada 2027, dan berpotensi menembus 7,8 triliun yuan (Rp20 ribu triliun) pada 2030.

————–

Negara-negara yang berada di sekitar khatulistiwa sebenarnya memiliki modal geografis yang sangat berharga untuk masuk ke industri antariksa: semakin dekat dengan khatulistiwa, semakin besar “bonus” kecepatan rotasi Bumi yang dapat membantu roket menghemat energi atau membawa payload lebih besar.

Namun keunggulan geografis saja tidak cukup. Tanpa industri manufaktur pendukung, rantai pasok material dan komponen, tenaga engineering dan riset, infrastruktur pengujian, serta yang paling penting kebijakan yang konsisten untuk membangun ekosistem industri antariksa komersial tanpa ancaman kriminalisasi, keuntungan lokasi itu hanya menjadi potensi di atas peta.

Sementara itu, China sedang membangun semua lapisan tersebut secara bersamaan—dan menariknya, kompetitor yang harus diperhatikan oleh negara-negara tersebut mungkin bukan lagi negara China secara keseluruhan, melainkan kota-kota industrinya yang satu per satu mulai mencari posisi di dalam rantai nilai industri antariksa komersial.

Dunia selama ini banyak berbicara tentang siapa yang akan membuat roket pertama, siapa yang mengirim satelit, dan siapa yang mencapai orbit lebih tinggi. Tetapi perlombaan sebenarnya mungkin jauh lebih fundamental: siapa yang mampu membangun industri yang membuat roket dan satelit dapat diproduksi, diuji, diluncurkan, dan digunakan secara berulang dengan biaya semakin rendah.

Ketika sebagian negara masih menghabiskan energi berdebat hal remeh temeh atau membuang anggaran untuk proyek-proyek tidak jelas, negara lain atau bahkan kota lain, sedang sibuk membangun industri roket dan satelit masa depan.

Itu saja diskusi kita minggu ini. Sampai ketemu lagi minggu depan. Terima kasih

Bandung, 26 September 2026

@icct.asia

Ledakan industri antariksa komersial China sebenarnya baru dimulai sekitar 2014, ketika pemerintah Beijing membuka sektor antariksa bagi investasi swasta. Kebijakan ini menjadi titik balik: dalam beberapa tahun kemudian bermunculan ratusan perusahaan baru yang bergerak di bidang roket, satelit, komponen, penginderaan jauh, hingga aplikasi data antariksa. Dari sekitar 400 perusahaan commercial space yang tercatat dan aktif pada 2023, jumlahnya kemudian menembus 600 perusahaan pada akhir 2025. Tahun 2025, pemerintah mulai membangun “jalan tol” regulasinya. China National Space Administration (CNSA) membentuk Commercial Space Department khusus untuk mengawasi dan mendorong perkembangan sektor ini, sekaligus mengeluarkan rencana 2025–2027 untuk membuka lebih banyak akses perusahaan komersial terhadap fasilitas negara, termasuk stasiun telemetry, tracking and control, fasilitas pengujian mesin roket, serta fasilitas simulasi lingkungan antariksa. Tahun 2026, pemerintah melangkah lebih jauh: CNSA bersama State Administration for Market Regulation (SAMR) menerbitkan Commercial Space Standards System (Version 1.0). Sistem ini mencakup enam bidang—tata kelola industri, R&D dan manufaktur, peluncuran serta telemetry-tracking-and-command, layanan aplikasi antariksa, standar dasar, serta fasilitas dan peralatan—dengan lebih dari 1.000 standar yang direncanakan. Menurut CNSA, standar tersebut tidak dibuat dari nol, melainkan dibangun di atas pengalaman China selama 70 tahun di bidang antariksa, sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan perkembangan model bisnis baru. Dengan kata lain, China kini tidak lagi sekadar membuka pintu bagi perusahaan swasta; China sedang membangun seluruh infrastruktur regulasi agar antariksa bisa berkembang sebagai sebuah industri massal. Menurut estimasi Soochow Securities, perusahaan BUMN besa bidang keuangan China, pasar antariksa komersial China diperkirakan meningkat dari sekitar 1,2 triliun yuan (Rp 3.200 triliun) pada 2024 menjadi 4,8 triliun yuan (Rp12 ribu triliun) pada 2027, dan berpotensi menembus 7,8 triliun yuan (Rp20 ribu triliun) pada 2030. #teknologichina #chinatechnology #fangchenggang #cnsa #airsat

♬ original sound – ICCT – ICCT

1

Post navigation

Previous post
Next post
@icct.asia

Apakah benar teknologi China sudah unggul di dunia? ini pendapat Amerika Serikat sendiri. #china #chinatechnology #teknologichina

♬ original sound - ICCT - ICCT
@icct.asia

Project 211 dan 985 Usaha untuk menjadi world class university di China. Apakah Rp 18 trilliun (USD 2,2 milyar di tahun 2000) itu besar? Pada tahun 1995, saat project 211 mulai, pendapatan fiskal China sekitar USD 75,2 miliar, jadi hanya 3% dari pendapatan negara. Tahun 2017 saat program Double First-class Plan dimulai, pendapatan China sudah mencapai USD 2,69 trilliun (salah satu faktornya adalah ekspor produk teknologi, hasil investasi di pendidikan tinggi). Otomatis anggaran peningkatan kualitas pendidikan tinggi juga segede gaban di 2017. Sebagai perbandingan estimasi pendapatan fiskal Indonesia di 1995 sekitar USD 30,2 miliar. Tahun 2017 menjadi USD 118 miliar. Orang bilang, saat yang paling tepat menanam pohon adalah 70 tahun yang lalu. Tetapi kalau dulu kita lupa menanam, saat terbaik adalah sekarang. #chinatechnology #teknologichina #china #project211

♬ original sound - ICCT - ICCT
©2026 ICCT.asia