Skip to content
ICCT.asia ICCT.asia

  • Home
  • Bandung & China
  • About Us
  • Resources
ICCT.asia
ICCT.asia

  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube

HIDROGEN ENERGI MASA DEPAN?

Helmi Himawan, 19 September, 202618 September, 2026

“Salah Kaprah Mobil Listrik Vs. Mobil Hidrogen”

Takdir memilih sebuah kota kecil untuk menjadi salah satu tempat China menguji industri masa depan.

———–

Daan adalah sebuah county di Provinsi Jilin, di bagian timur laut China. Luas wilayahnya sekitar 4.879 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 400.000 jiwa

Selama sebagian besar sejarah modernnya, kota ini tidak pernah menjadi salah satu pusat industri utama China. Ekonominya dibangun dari pertanian, kemudian sumber daya alam, termasuk minyak.

Tetapi sekarang, sebuah eksperimen industri energi masa depan bernilai miliaran yuan sedang berlangsung di Daan. 

Pada tanggal 26 Juli 2025, Perusahaan Investasi Listrik Negara China, atau SPIC (State Power Invesment Company), resmi mengoperasikan fasilitas terintegrasi antara angin-surya-hidrogen-amonia, yang terbesar di dunia.

Proyek ini dinobatkan sebagai proyek demonstrasi hidrogen bersih nasional, fasilitas ini mengintegrasikan 800 megawatt energi terbarukan — 700 megawatt dari angin dan 100 megawatt dari surya — untuk menghasilkan amonia hijau dalam skala industri.

Tetapi sesungguhnya, yang sedang diuji di Daan jauh lebih besar daripada sebuah proyek.

China sedang menguji apakah energi terbarukan dapat diubah menjadi sebuah industri baru melalui hidrogen.

————-

Sebelum lebih jauh, kita mundur dulu 11 tahun yang lalu. Pada tahun 2015 melalui Perjanjian Paris (Paris Agreement), hampir semua negara di dunia berkomitmen untuk menahan laju kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C demi menghindari bencana iklim global. Momentum ini kemudian dikunci secara radikal pada Konferensi Iklim PBB COP28 di Dubai (2023). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia secara resmi menyepakati konsensus untuk melakukan transisi keluar dari bahan bakar fosil (transitioning away from fossil fuels) dan menargetkan Nol Emisi Karbon (Net-Zero Emissions) pada tahun 2050.

Negara-negara maju dan berkembang kini berlomba menghentikan investasi batu bara dan minyak bumi, lalu mengalihkan miliaran dolar dana global untuk membangun infrastruktur energi terbarukan. Dunia bergerak bersama dalam satu misi: memutus ketergantungan pada bahan bakar fosil demi menyelamatkan masa depan planet bumi.

Sebetulnya selain listrik ada bentuk lain dari energi terbarukan  (renewable energy) seperti, biodiesel, bioetanol, biogas dan panas bumi. Tetapi mayoritas negara kemudian memilih listrik sebagai ujung tombak energi terbarukan. Ada 3 alasan, yaitu

  • Listrik memiliki efisiensi konversi energi tertinggi (contoh, pada kendaraan listrik mencapai 80%, dibandingkan 20% pada pembakaran biofuel),
  • Energi listrik tidak membutuhkan lahan pertanian masif yang dapat mengancam ketahanan pangan global, ini berbeda dengan energi bio.
  • serta menghasilkan nol emisi polusi di lokasi penggunaan.

Sekarang kita fokus pada energi listrik. Alam telah menyediakan energi bersih paling melimpah dan mudah dipanen langsung dalam bentuk listrik melalui angin (wind) dan matahari (solar). Tetapi sebenarnya listrik hijau (green electricity) juga bisa dihasilkan dari berbagai sumber energi terbarukan lainnya di bumi, seperti energi hidro (PLTA), energi panas bumi (PLTP), energi laut (ocean energy), seperti pasang surut laut  dan energi biomassa.

Meskipun demikian data dari Intenational Renewable Energy Agency (IRENA) menunjukan bahwa lebih dari 95% penambahan kapasitas pembangkit listrik terbarukan baru di dunia disumbang oleh matahari dan angin. Mengapa? Ada 4 alasannya:

  • Penurunan ekstrem biaya, contoh harga solar panel turun 80-90% sejaj tahun 2010. Akibatnya membangun ladang surya atau angin, jauh lebih murah dibanding membangun PLTA baru.
  • Kemudahan geografis dan fleksibilitas. Solar panel dan angin, relatif bisa dimana saja selam ada matahari dan angin. Bandingkan dengan lokasi PLTA, atau geothermal atau energi laut.
  • Kecepatan pembangunan. Proyek solar panel bisa selesai dalam hitungan bulan atau hari. Proyek ladang angin 1-2 tahun. Sementara proyek PLTA atau panas bumi membutuhkan proses yang lebih rumit dan lama, antara 5-10 tahun
  • Skalabilitas produksi massal. Komponen panel surya atau angin, sama dimanapun sehingga bisa diproduksi massal dan murah. Sementara komponen PLTA atau panas bumi harus disesuaikan dengan bentuk gunung atau aliran sungai setempat.

Dunia sedang memasuki gelombang energi baru

Pada 2025, dunia menambah sekitar 800 GW kapasitas energi terbarukan. China sendiri memasang hampir 500 GW kapasitas renewable dalam satu tahun—sekitar 370 GW solar PV dan 117 GW wind. Penambahan China saja menyumbang lebih dari 60% pertumbuhan renewable global tahun tersebut.

Angka tersebut bukan lagi sekadar eksperimen energi alternatif. Ini sudah menjadi sebuah gelombang industrialisasi. Dan China berada tepat di tengah gelombang tersebut.

Tetapi semakin banyak listrik berasal dari matahari dan angin, muncul persoalan baru. Matahari tidak bersinar sepanjang hari. Angin tidak bertiup dengan intensitas yang sama setiap waktu. Sementara industri membutuhkan energi secara terus-menerus.

Baterai dapat membantu sebagian persoalan tersebut. Namun, baterai memiliki keterbatasan bobot dan kapasitas. Sementara ada sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi (hard-to-abate sectors), antara lain:

  • Transportasi Berat jarak Jauh: Kapal kargo laut, pesawat terbang, dan truk kontainer membutuhkan energi besar. Jika menggunakan baterai, bobot baterai akan terlalu berat. Hidrogen jauh lebih ringan dan cepat diisi ulang.
  • Industri Berat skala Besar: Industri pembuatan baja, semen, dan bahan kimia membutuhkan suhu panas ekstrem yang konstan. Panas setinggi ini sulit dicapai secara efisien hanya dengan listrik baterai, tetapi bisa dipenuhi dengan pembakaran hidrogen.
  • Penyimpanan Energi Musiman: Listrik dari angin dan matahari bersifat tidak menentu (intermiten). Kelebihan listrik harian dari panel surya dapat digunakan untuk memproduksi green hydrogen, yang kemudian disimpan dalam tabung besar selama berbulan-bulan untuk digunakan saat musim dingin atau saat cuaca mendung.

Disinilah peran penting Hidrogen untuk mengatasi kelemahan utama baterai dalam distribusi listrik hijau melalui kemampuannya untuk menyimpan energi dalam skala raksasa (terawatt-jam), bertahan tanpa batas waktu tanpa kebocoran daya (zero self-discharge), dan memanfaatkan infrastruktur pipa gas yang sudah ada untuk pengiriman jarak jauh.

Meskipun baterai lithium sangat efisien untuk penggunaan harian dan kendaraan kecil, baterai memiliki keterbatasan fisik yang fatal untuk distribusi grid skala nasional. Berikut adalah tabel komparasi langsung bagaimana hidrogen menutup celah kelemahan baterai lithium:

Keterbatasan Utama Baterai LithiumSolusi yang Ditawarkan Hidrogen Hijau
Kebocoran Daya (Self-Discharge): Baterai yang penuh akan kehilangan dayanya secara perlahan (sekitar 1–5% per bulan) meskipun tidak digunakan. Tidak cocok untuk penyimpanan musiman.Penyimpanan Abadi: Setelah listrik diubah menjadi molekul gas hidrogen dan disimpan di tangki atau gua bawah tanah (salt cavern), energi tersebut tidak akan berkurang sedikit pun meskipun disimpan bertahun-tahun.
Keterbatasan Skala (Capacitance Limit): Membangun kapasitas baterai skala Terawatt-jam (TW) membutuhkan jutaan ton penambangan lithium, sangat berat, mahal, dan memakan tempat luas.Skala Volume Tanpa Batas: Hidrogen menggunakan pendekatan volume. Untuk menambah kapasitas energi, dunia hanya perlu memperbesar ukuran tangki penyimpanan atau memanfaatkan jaringan pipa gas bumi.
Kemacetan Jaringan Kabel (Grid Congestion): Mendistribusikan listrik hijau dari hulu ke hilir sepenuhnya bergantung pada kapasitas kabel tembaga. Jika kabel penuh, listrik terbuang sia-sia (curtailment).Distribusi Fleksibel Tanpa Kabel: Kelebihan listrik hijau langsung diubah menjadi hidrogen, kemudian didistribusikan menggunakan truk tangki, kapal laut, atau dicampur langsung ke dalam pipa gas bumi (hydrogen blending).

Tiga Cara Hidrogen Mengubah Distribusi Energi Bersih

1. Penyimpanan Musiman (Seasonal Energy Storage)

Energi surya melimpah di musim panas, namun listrik sangat dibutuhkan di musim dingin (untuk penghangat ruangan). Baterai hanya mampu menahan listrik untuk hitungan jam atau hari sebelum dayanya habis bocor. Hidrogen bertindak sebagai celengan raksasa: listrik musim panas disimpan menjadi gas hidrogen, lalu dibakar kembali menjadi listrik saat musim dingin tiba.

2. Konsep “Pipa Gas Lebih Murah daripada Kabel Tembaga”

Membangun jaringan kabel listrik tegangan tinggi baru (high-voltage transmission lines) melintasi benua memakan biaya astronomis dan birokrasi lahan yang rumit. Dunia mengatasi ini dengan menyuntikkan hidrogen ke jaringan pipa gas bumi yang sudah tertanam di bawah tanah. Pipa gas mampu menyalurkan energi 10 hingga 20 kali lebih banyak per detik dibandingkan kabel listrik dengan biaya infrastruktur yang jauh lebih murah.

3. Logistik Antar-Benua (Komoditas Energi Global)

Baterai tidak bisa diekspor melintasi samudra. Kita tidak bisa mengisi baterai raksasa di Australia lalu mengirimkannya menggunakan kapal ke Jepang. Namun, dengan hidrogen (atau diubah menjadi amonia hijau seperti di proyek Da’an), listrik hijau dari daerah yang kaya angin/surya dapat dicairkan, dimasukkan ke kapal tanker biasa, dan dijual ke negara lain sebagai komoditas global.

Proses mengubah listrik menjadi hidrogen atau amonia sebagai media penyimpan energi dikenal dengan konsep Power-to-X (khususnya Power-to-Gas atau Power-to-Liquid).

Berikut adalah siklus perjalanan energi tersebut dari hulu ke hilir:

[Listrik Hijau] –> [Elektrolisis Air] –> [Gas Hidrogen] –> [Sintesis Amonia] –> [Transportasi/Simpan] –> [Cracking/Pemisahan] –> [Turbin/Fuel Cell] –> [Listrik Bersih]

1. Tahap Konversi: Listrik Menjadi Hidrogen & Amonia (Hulu)

  • Elektrolisis Air: Listrik dari sumber terbarukan (seperti panel surya atau kincir angin) dialirkan ke alat bernama elektroliser. Alat ini menyetrum air (H2O) untuk memisahkan molekulnya menjadi gas Hidrogen Hijau (H2) dan Oksigen (O2).
  • Sintesis Amonia: Gas hidrogen tersebut kemudian direaksikan dengan Nitrogen (N2) yang diambil dari udara bebas menggunakan metode Haber-Bosch berenergi bersih. Hasil akhirnya adalah Amonia Hijau (NH3) berbentuk cair yang jauh lebih padat energi dan mudah dikelola.

2. Tahap Logistik: Pengiriman & Penyimpanan Musiman (Tengah)

  • Dikirim ke Tempat Lain: Amonia cair dimasukkan ke dalam kapal tanker atau truk tangki biasa (seperti jalur ekspor proyek Da’an ke Korea Selatan). Amonia aman dikirim melintasi samudra karena tidak memerlukan suhu super dingin ekstrem seperti hidrogen murni.
  • Disimpan untuk Lain Waktu: Jika tidak langsung dikirim, amonia atau hidrogen disimpan di dalam tangki raksasa atau gua bawah tanah (salt cavern). Energi ini bisa disimpan selama berbulan-bulan tanpa ada kebocoran daya sedikit pun (berbeda dengan baterai yang dayanya perlahan habis sendiri).

3. Tahap Rekonversi: Mengubah Kembali Menjadi Listrik (Hilir)

Ketika negara tujuan atau industri membutuhkan listrik (misalnya saat musim dingin atau malam hari), amonia tersebut dikonversi kembali melalui dua opsi cara:

  • Cara Langsung (Pembakaran): Amonia hijau dibakar langsung di dalam turbin gas khusus atau dicampur dengan bahan bakar lain di PLTU untuk menggerakkan generator penghasil listrik.
  • Cara Tidak Langsung (Cracking): Amonia dipanaskan terlebih dahulu melewati proses cracking untuk memisahkan kembali atom nitrogennya, sehingga menghasilkan hidrogen murni. Hidrogen murni ini kemudian dimasukkan ke dalam Fuel Cell (Sel Bahan Bakar), di mana hidrogen direaksikan dengan oksigen untuk menghasilkan listrik bersih. Hasil sampingan dari proses ini murni hanya berupa air (H2O).

Melalui siklus ini, angin dan matahari yang ditangkap hari ini di satu belahan bumi, bisa menyalakan lampu rumah di belahan bumi lain pada bulan berikutnya.

Hidrogen bukan sekadar bahan bakar

Dari uraian diatas bisa dipahami jika ada yang menyebut “hidrogen adalah bahan bakar masa depan” secara tidak langsung. Sebenarnya lebih luas daripada itu.

Hidrogen adalah energy carrier sekaligus bahan baku industri.

Listrik dapat digunakan untuk menghasilkan hidrogen melalui elektrolisis.

Hidrogen kemudian dapat:

  • digunakan sebagai bahan baku ammonia;
  • digunakan dalam produksi methanol;
  • digunakan dalam proses pengolahan minyak;
  • digunakan dalam produksi baja;
  • digunakan sebagai bahan bakar pada aplikasi tertentu;
  • atau diubah kembali menjadi listrik melalui fuel cell atau proses pembangkitan lainnya.

Karena itu, green hydrogen adalah salah satu kemungkinan jembatan antara sistem listrik terbarukan dan industri kimia. Dan dunia mulai berebut posisi di dalam kemungkinan tersebut.

Hidrogen Hijau

Ada dua jenis Hidrogen dilihat dari proses produksinya. Pertama Grey hydrogen adalah hidrogen yang diproduksi dari bahan bakar fosil (seperti gas alam atau batubara) melalui proses steam methane reforming yang melepaskan emisi karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar ke atmosfer.

Yang kedua adalah  green hydrogen adalah hidrogen murni yang diproduksi secara berkelanjutan melalui proses elektrolisis air menggunakan sumber energi terbarukan—seperti panel surya atau kincir angin—sehingga menghasilkan nol emisi karbon dari hulu hingga hilir. Hidrogen jenis ini yang diperlukan dunia.

Perbandingan antara produksi grey hydrogen dan green hydrogen di tingkat global saat ini menunjukkan jurang pemisah yang sangat besar, baik dari segi volume pasokan pasar maupun sisi ekonomisnya. Meskipun dunia bertekad melakukan transisi energi bersih, industri hidrogen saat ini masih didominasi secara mutlak oleh bahan bakar fosil.

Berikut adalah tabel komparasi langsung potret produksi keduanya di pasar global:

Aspek PerbandinganGrey Hydrogen (Hidrogen Abu-abu)Green Hydrogen (Hidrogen Hijau)
Pangsa Pasar GlobalMendominasi sekitar 95% dari total pasokan dunia.Masih di bawah 1% (namun tumbuh paling cepat).
Volume ProduksiLebih dari 95 Juta Ton per tahun.Sekitar 1,7 Juta Ton per tahun (meningkat pesat berkat China).
Biaya ProduksiPaling Murah: Kisaran USD 1,20 – 2,50 per kg.Sangat Mahal: Kisaran USD 2,50 – 7,00 per kg (tanpa subsidi).
Kematangan TeknologiSangat matang, menggunakan metode Steam Methane Reforming (SMR) yang dioptimalkan puluhan tahun.Sedang berkembang pesat, mengandalkan instalasi mesin elektroliser skala gigawatt.
Dampak LingkunganMelepaskan emisi tinggi 9–12 kg CO2 per setiap 1 kg hidrogen yang dihasilkan.Nol Emisi Karbon, murni memanfaatkan listrik dari surya dan angin.

Faktor Utama Ketimpangan Produksi di Dunia

1. Faktor Keunggulan Biaya (The Cost Gap)

Alasan utama mengapa grey hydrogen masih merajai pasar adalah faktor ekonomi. Grey hydrogen diproduksi dari gas alam murah atau batu bara lewat infrastruktur kilang yang sudah mapan sejak lama. Sebaliknya, untuk membuat green hydrogen, produsen harus membeli mesin elektroliser (CapEx tinggi) dan membutuhkan pasokan listrik hijau yang sangat besar. Di sebagian besar wilayah seperti Eropa dan India, harga green hydrogen bisa mencapai 2 hingga 3 kali lipat lebih mahal daripada grey hydrogen.

2. Ketergantungan Industri Eksisting

Konsumen hidrogen terbesar di dunia saat ini adalah pabrik pupuk kimia (amonia), kilang minyak bumi, dan industri metanol. Karena industri-industri ini telah terintegrasi secara fisik dengan pipa gas alam dan pembangkit berbasis fosil, mereka cenderung tetap menyerap grey hydrogen demi menjaga stabilitas operasional dan menekan biaya produksi produk akhir mereka.

3. Dominasi Geografis dan Kebijakan

  • China saat ini memimpin percepatan kapasitas operasional green hydrogen dunia, menyumbang hampir 90% dari pertumbuhan proyek baru melalui proyek terintegrasi raksasa (seperti proyek di Da’an).
  • Di Amerika Serikat dan Eropa, pertumbuhan green hydrogen sangat bergantung pada “napas buatan” berupa insentif pajak atau subsidi pemerintah (seperti Inflation Reduction Act / IRA di AS). Tanpa adanya subsidi atau penetapan pajak karbon yang mahal bagi industri fosil, green hydrogen masih sulit bersaing secara murni di pasar bebas.

Kendati grey hydrogen memenangkan volume saat ini, tren global memproyeksikan harga teknologi elektroliser akan turun tajam dalam beberapa tahun ke depan, bertahap mempersempit jurang biaya menuju target substitusi penuh bahan bakar fosil.

Jika green hydrogen menjadi ekonomis, produksi ammonia, methanol, refining dan berbagai industri lainnya dapat perlahan bergeser dari hydrogen berbasis fossil fuel menuju hydrogen rendah emisi.

Dan di situlah peluang industrinya menjadi sangat besar.

Peran China Industri Hidrogen Hijau Masa Depan

Sekarang kita kembali ke kota Daan di provinsi Jilin. Da’an Wind-Solar Green Hydrogen Integrated Demonstration Project adalah proyek fasilitas terintegrasi energi angin-surya-hidrogen-amonia terbesar di dunia. Proyek megah ini dikembangkan oleh State Power Investment Corporation (SPIC) melalui anak perusahaannya, Jilin Electric Power Co., Ltd.

Proyek ini bernilai investasi sekitar 6,33 miliar Yuan (sekitar Rp13,7 triliun) ini telah resmi mulai beroperasi penuh pada Juli 2025. Proyek ini menjadi tonggak sejarah global karena membuktikan bahwa produksi amonia hijau skala industri berbasis energi terbarukan yang tidak stabil (intermittent) dapat dikendalikan dengan stabil.

1. Bagaimana Rantai Kerjanya? (Konsep “Electricity-to-Ammonia”)

Fasilitas di Da’an mengintegrasikan seluruh rantai industri dari hulu ke hilir dalam satu lokasi:

  1. Pembangkitan Listrik Bersih (Hulu): Memanfaatkan hamparan angin dan surya yang melimpah di barat Jilin untuk menghasilkan “listrik hijau”.
  2. Produksi Hidrogen (Antara): Listrik tersebut disalurkan ke mesin elektrolisis air untuk memisahkan molekul air menjadi hidrogen hijau dan oksigen.
  3. Sintesis Amonia (Hilir): Hidrogen hijau tersebut direaksikan dengan nitrogen yang disaring langsung dari udara luar untuk menghasilkan amonia hijau (NH3). Amonia cair jauh lebih mudah disimpan dan ditransportasikan dalam jarak jauh dibanding gas hidrogen murni.

2. Angka Kapasitas Ekstrem Proyek Da’an

  • Kapasitas Listrik Terpasang: Total 800 Megawatt (MW) energi terbarukan, yang terbagi atas 700 MW PLTB (Angin) dan 100 MW PLTS (Surya).
  • Kandungan Baterai & Penyimpanan: Dilengkapi sistem baterai penyimpan energi berkapasitas 40 MW / 80 MWh.
  • Output Produksi Tahunan: Mampu menghasilkan 32.000 ton hidrogen hijau dan 180,000 ton amonia hijau setiap tahunnya.
  • Dampak Lingkungan: Memangkas emisi karbon dioksida hingga 650.000 ton per tahun, setara dengan menetralisir konsumsi listrik tahunan hampir 500.000 rumah tangga.

3. Rekor Dunia yang Dipecahkan

Proyek Da’an diklaim memecahkan empat rekor dunia sekaligus dalam hal teknologi energi baru:

  1. Skala Produksi Amonia Hijau Tunggal Terbesar: Menjadi pabrik tunggal dengan kapasitas keluaran amonia bersih terbesar saat ini.
  2. Sistem Produksi Hidrogen Hibrida Terbesar: Menggabungkan teknologi elektrolisis Alkaline (ALK) skala masif dan Proton Exchange Membrane (PEM) untuk fleksibilitas tinggi.
  3. Microgrid Arus Searah (DC) Terbesar: Memiliki jaringan internal mandiri untuk menyalurkan listrik searah langsung ke alat elektrolisis tanpa kehilangan energi akibat konversi ke AC.
  4. Sistem Penyimpanan Hidrogen Padat (Solid-State) Terbesar: Menggunakan teknologi penyimpanan mutakhir agar hidrogen aman dan efisien sebelum diubah menjadi amonia.

4. Menembus Pasar Global

Proyek ini tidak hanya untuk kebutuhan domestik China. Amonia hijau dari Da’an telah mengantongi sertifikasi internasional ISCC EU RFNBO, memenuhi standar ketat Uni Eropa. Pada Juli 2026, proyek ini mencetak sejarah dengan mengirimkan 3.750 ton amonia hijau ke Korea Selatan—menjadi pengiriman ekspor amonia hijau batch tunggal terbesar di dunia. SPIC juga telah mengamankan kontrak penjualan jangka panjang dengan mitra-mitra besar dari Jepang dan Eropa

Inilah eksperimen sebenarnya, yang berhasil membuktikan energi angin dan matahari yang intermiten menjadi proses industri kimia yang stabil dan ekonomis”

Daan bukan satu-satunya kota di China yang menggunakan kombinasi wind + PV untuk green hydrogen. Model serupa berkembang di berbagai kawasan seperti:

  • Inner Mongolia
  • Gansu
  • Ningxia
  • Xinjiang
  • Jilin
  • Hebei
  • dan kawasan renewable-rich lainnya.

Daan adalah salah satu prototipe. Yang sedang diuji adalah formula:

renewable resource → hydrogen → chemical industry

Jika formula tersebut bekerja, ia dapat direplikasi di banyak wilayah China.

China memanfaatkan posisinya sebagai raksasa manufaktur energi terbarukan global—dengan rekor pemasangan hampir 500 GW kapasitas terbarukan pada 2025 serta penguasaan rantai pasok solar PV dan angin—untuk memperluas dominasinya ke teknologi elektroliser, mesin pengubah listrik menjadi hidrogen. Dengan menguasai hampir 60% kapasitas manufaktur elektroliser global dan menyumbang tiga perempat dari instalasi baru dunia, China menawarkan biaya produksi yang lebih rendah serta pengalaman proyek berskala besar yang mengungguli negara lain.

Masuknya sejumlah perusahaan solar PV ke dalam sektor ini memperkuat indikasi bahwa elektroliser berpotensi menjadi “sekuel” atau babak lanjutan dari kesuksesan komersial China setelah panel surya dan baterai. Melalui strategi ini, Tiongkok tidak perlu memproduksi seluruh hidrogen dunia secara langsung, melainkan cukup memposisikan diri sebagai pemasok utama mesin dan sistem yang memungkinkan negara lain memproduksi hidrogen.

Maka, apa sebenarnya yang sedang dipertaruhkan di Daan?

Bukan sekadar apakah Daan dapat menghasilkan 32.000 ton hydrogen. Bukan sekadar apakah 180.000 ton green ammonia dapat diproduksi. Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah:

Apakah China dapat membangun sebuah model industrialisasi baru yang mengubah energi terbarukan menjadi produk industri, kemudian mengubah pengalaman domestik tersebut menjadi teknologi yang dapat digunakan di seluruh dunia?

Jika berhasil, Daan mungkin akan dikenang bukan karena merupakan kota hydrogen terbesar.

Tetapi karena ia menjadi salah satu tempat China belajar melakukan sesuatu untuk pertama kalinya dalam skala besar.

Sampai ketemu lagi minggu depan. Terima kasih.

Bandung, 19 September 2026

1

Post navigation

Previous post
Next post
@icct.asia

Apakah benar teknologi China sudah unggul di dunia? ini pendapat Amerika Serikat sendiri. #china #chinatechnology #teknologichina

♬ original sound - ICCT - ICCT
@icct.asia

Project 211 dan 985 Usaha untuk menjadi world class university di China. Apakah Rp 18 trilliun (USD 2,2 milyar di tahun 2000) itu besar? Pada tahun 1995, saat project 211 mulai, pendapatan fiskal China sekitar USD 75,2 miliar, jadi hanya 3% dari pendapatan negara. Tahun 2017 saat program Double First-class Plan dimulai, pendapatan China sudah mencapai USD 2,69 trilliun (salah satu faktornya adalah ekspor produk teknologi, hasil investasi di pendidikan tinggi). Otomatis anggaran peningkatan kualitas pendidikan tinggi juga segede gaban di 2017. Sebagai perbandingan estimasi pendapatan fiskal Indonesia di 1995 sekitar USD 30,2 miliar. Tahun 2017 menjadi USD 118 miliar. Orang bilang, saat yang paling tepat menanam pohon adalah 70 tahun yang lalu. Tetapi kalau dulu kita lupa menanam, saat terbaik adalah sekarang. #chinatechnology #teknologichina #china #project211

♬ original sound - ICCT - ICCT
©2026 ICCT.asia