Bermodal Cadangan Garam yang Bisa Dikonsumsi sampai 33.000 Tahun
“ Setiap orang rata-rata mengonsumsi sekitar 5 gram garam per hari. Dengan penduduk China sekitar 1,4 miliar jiwa, kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga saja mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun. Jika kebutuhan industri dan berbagai penggunaan lainnya diperhitungkan, katakanlah sekitar 10 juta ton per tahun, maka cadangan garam sekitar 330 miliar ton yang tersimpan di bawah tanah Yexian secara teoritis cukup untuk sekitar 33.000 tahun”
———-
Yexian adalah sebuah county di Provinsi Henan, China—kurang lebih setara dengan kabupaten di Indonesia. Luasnya sekitar 1.387 km² dengan penduduk sekitar 700 ribu jiwa. Yexian berada di bawah Pingdingshan, sebuah pemerintahan kota (prefecture-level city) yang posisinya berada di antara provinsi dan county.
Pada awal 1980-an, ketika eksplorasi minyak dilakukan di wilayah Yexian, ditemukan indikasi adanya deposit garam bawah tanah yang sangat besar. Eksplorasi lanjutan pada pertengahan 1980-an kemudian mengonfirmasi keberadaan Yexian Salt Field, dengan wilayah persebaran sekitar 400 km² dan cadangan sekitar 330 miliar ton. Garamnya berada jauh di bawah tanah, sekitar 1100 meter, relatif terlindungi dari pencemaran, dan memiliki kadar NaCl yang tinggi.
Kekayaan tersebut membuat Yexian kemudian dikenal sebagai salah satu pusat garam batu terpenting di China, bahkan mendapat julukan “China’s Rock Salt Capital.”
Dari daerah tambang menjadi daerah industri
Pada tahap awal, logikanya sederhana: garam ditambang, kemudian dijual.
Yexian masih berada pada pola pemanfaatan sumber daya yang sederhana: garam bawah tanah diambil melalui sumur, diolah menjadi garam, lalu dipasarkan sebagai produk garam. Nilai tambah masih terutama berhenti pada produksi garam itu sendiri.
Ini adalah cara tercepat untuk mengubah sumber daya alam menjadi pendapatan. Tetapi seperti banyak daerah tambang lainnya, model seperti ini memiliki masalah.
Ketika hasil alam dijual mentah, nilai tambah terbesar justru terjadi di luar daerah penghasil bahan mentah. Sementara pembangunan infrastruktur cenderung hanya terkonsentrasi di sekitar kawasan tambang, di sisi lain ekonomi lokal sulit berkembang menjadi lebih beragam. Lapangan kerja juga sangat bergantung pada siklus komoditas. Ketika harga turun, aktivitas ekonomi ikut melemah.
Dan ada satu persoalan yang jauh lebih mendasar.
Apa yang akan terjadi setelah sumber daya tersebut tidak lagi menjadi sumber pertumbuhan?
Meskipun cadangan garam Yexian sangat besar dan secara teoritis bisa bertahan ribuan tahun, pemerintah lokal mulai melihat bahwa kekayaan alam tidak boleh berhenti sebagai komoditas mentah.
Sebab garam sebenarnya bukan sekadar bahan makanan.
Garam adalah salah satu bahan baku paling penting dalam industri kimia. Dari garam dapat dihasilkan chlorine, caustic soda, hydrogen, hydrochloric acid, soda ash dan berbagai bahan kimia dasar lainnya. Karena digunakan sebagai fondasi bagi begitu banyak proses industri, garam bahkan sering disebut sebagai “mother of chemical industry.”
Maka pertanyaannya berubah:
Mengapa menjual garam kalau garam bisa menjadi bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk industri bernilai jauh lebih tinggi?
Dari garam menuju rantai industri
Perubahan arah ini mulai terlihat jelas sejak sekitar 2004.
China Salt Haolong menanam sekitar RMB 310 juta untuk membangun fasilitas refined salt berkapasitas sekitar 1,2 juta ton. Setelah itu masuk pula proyek chlor-alkali yang kemudian menjadi bagian dari ekosistem China Pingmei Shenma Group.
Pada 2006, pembangunan coal-salt integrated chemical industrial park mulai dilakukan.
Di sinilah logika pembangunan Yexian berubah secara fundamental.
Bukan lagi:
garam → ditambang → dijual
melainkan:
garam → bahan baku kimia → intermediate → material → produk industri
Perubahan ini penting karena nilai ekonomi tidak lagi berhenti pada sumber daya alam. Nilai tambah diciptakan berulang kali sepanjang rantai industri.
Salah satu ilustrasi yang digunakan oleh sumber pemerintah bahkan menunjukkan bahwa melalui pengembangan rantai industri, nilai output yang berasal dari satu ton garam dapat meningkat dari sekitar 300 yuan menjadi sekitar 30.000 yuan.
Dengan kata lain, yang sedang dibangun bukan sekadar industri garam.
Yang dibangun adalah industri di sekitar garam.
Mengapa perusahaan-perusahaan harus berada berdekatan?
Menariknya, transformasi ini tidak dilakukan oleh satu perusahaan yang mengerjakan seluruh proses dari awal sampai akhir.
Pemerintah membangun kawasan industri.
Berbagai perusahaan ditempatkan berdekatan.
Produk samping dari satu proses dapat menjadi bahan baku bagi proses berikutnya. Energi dan utilitas dapat digunakan bersama. Infrastruktur dapat dibangun secara terintegrasi. Transportasi bahan baku menjadi lebih efisien.
Inilah yang kemudian berkembang menjadi industrial chain dan industrial cluster.
Di Yexian dan Pingdingshan, rantai tersebut berkembang semakin panjang.
Gambaran sederhananya menjadi:
Garam
↓
Chlor-alkali
↓
Chlorine / Caustic Soda / Hydrogen / Hydrochloric Acid
↓
Chemical Intermediates
↓
Polycarbonate
↓
Engineering Plastics
↓
Nylon & Advanced Materials
↓
Produk Industri
Sumber daya yang sama tidak lagi menghasilkan satu jenis komoditas.
Ia menjadi fondasi bagi rantai nilai industri yang panjang.
Yexian masuk ke dalam strategi China Nylon City
Transformasi ini kemudian terhubung dengan strategi industrialisasi Pingdingshan yang lebih besar.
Pingdingshan selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu basis batu bara penting di China. Dari kombinasi sumber daya coal + salt, pemerintah mengembangkan rantai industri kimia dan nylon new materials yang jauh lebih kompleks.
Target besarnya adalah membangun China Nylon City, dengan konsep “one core, two wings.”
Pingdingshan Nylon New Materials Development Zone menjadi core, yang berfungsi sebagai basis bahan baku hulu.
Sementara itu, Pingdingshan High-tech Zone dan Yexian Advanced Manufacturing Development Zone menjadi dua wings, yang diarahkan untuk mengembangkan industri hilir dan deep processing.
Menariknya, dua bagian penting dari struktur tersebut justru berada di Yexian sendiri.
Artinya, Yexian tidak lagi sekadar menjadi tempat mengambil garam dari tanah.
Ia mulai menjadi bagian dari ekosistem industri kimia dan material maju.
Perusahaan-perusahaan dalam ekosistem China Pingmei Shenma Group seperti Shenma Chlor-Alkali, United Salt Chemical, dan perusahaan material polycarbonate berada dalam satu kawasan dan sekaligus membentuk hubungan hulu-hilir.
Garam menghasilkan chlor-alkali.
Chlor-alkali menghasilkan bahan kimia dasar.
Bahan kimia dasar menjadi input bagi material seperti polycarbonate dan nylon.
Dan material tersebut kemudian masuk ke berbagai industri manufaktur.
Dengan demikian, rantai rock salt → chlor-alkali → PC/nylon → advanced materials mulai terbentuk.
Inilah transformasi dari resources and energy menjadi materials.
Tetapi membangun industri teknologi tinggi tidak cukup dengan uang dan pabrik
Di sinilah pelajaran Yexian menjadi lebih menarik.
Membangun pabrik memang membutuhkan modal.
Tetapi membangun industri teknologi tinggi membutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar: kemampuan untuk terus mengembangkan teknologi.
Karena itu, ekosistem Yexian dan Pingdingshan kemudian diperkuat dengan engineering research centers, laboratories, pilot facilities, industrial research institutes, serta kerja sama dengan universitas dan lembaga penelitian.
Bahkan Peking University Henan Chemical Research Institute kemudian hadir di Yexian untuk memperkuat kemampuan riset industri kimia.
Dalam ekosistem China Nylon City yang lebih luas, pemerintah juga menyebut kerja sama dengan lebih dari 30 universitas dan lembaga riset, antara lain Zhengzhou University, Donghua University, Zhejiang Sci-Tech University, Shanghai Jiao Tong University, Xiangtan University, dan Chinese Academy of Sciences.
Jadi, formula industrialisasinya semakin lengkap:
Resource
- Capital
- Infrastructure
- Companies
- Universities & Research
- Government Coordination
= Industrial Ecosystem
Dan ini merupakan perbedaan penting antara sekadar memiliki sumber daya alam dengan kemampuan mengubah sumber daya alam menjadi industri berteknologi tinggi.
Bahkan limbah produksinya menjadi aset baru
Namun cerita Yexian ternyata belum berhenti pada material.
Ada satu konsekuensi menarik dari cara garam tersebut diekstraksi.
Garam bawah tanah tidak selalu diambil dengan cara menggali tambang secara konvensional. Salah satu metode yang digunakan adalah solution mining: air dipompa ke dalam lapisan garam sehingga garam larut dan kemudian larutan garam dipompa keluar.
Proses tersebut meninggalkan rongga-rongga besar di bawah tanah yang disebut salt cavern. Pada awalnya, rongga tersebut hanyalah konsekuensi dari proses produksi. Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang sangat khas dalam pembangunan industri:
Kalau rongga ini sudah ada, mengapa tidak dimanfaatkan?
Jawabannya adalah underground storage.
Salt cavern dapat digunakan untuk menyimpan berbagai jenis energi dan gas, termasuk gas alam dan hydrogen. Maka lahirlah tahap baru dalam evolusi Yexian:
garam → chemical industry → advanced materials → energy storage
Pada April 2026, proyek deep underground salt cavern large-scale hydrogen storage di Yexian mulai beroperasi. Proyek tersebut disebut sebagai proyek demonstrasi penyimpanan hydrogen dalam salt cavern skala besar pertama di China, dengan kapasitas sekitar 1 juta m³ pada tahap demonstrasi.
Dengan demikian, satu deposit garam yang dahulu hanya dipandang sebagai sumber komoditas, secara bertahap menghasilkan beberapa lapisan nilai ekonomi:
Garam
↓
Bahan baku kimia
↓
Chemical industry
↓
Advanced materials
↓
Industrial cluster
↓
Research & innovation ecosystem
↓
Underground energy storage
Inilah yang membuat kisah Yexian menarik.
Bukan karena Yexian memiliki cadangan garam yang luar biasa besar—meskipun memang demikian.
Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah daerah memilih memperpanjang rantai nilai dari sumber daya yang dimilikinya.
Dari menjual garam, menjadi produsen bahan kimia.
Dari bahan kimia, menjadi produsen material.
Dari material, membangun ekosistem manufaktur.
Dari ekosistem manufaktur, membangun kemampuan riset.
Dan akhirnya, bahkan rongga bawah tanah yang tercipta dari proses mengambil garam pun diubah menjadi infrastruktur energi.
Sumber daya alam menjadi titik awal, bukan titik akhir industrialisasi.
Dan pelajaran yang lebih besar adalah: industrialisasi teknologi tinggi membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pembangunan ekosistem selama bertahun-tahun. Bukan sekadar memasukkan modal, membangun satu pabrik, lalu berharap sebuah daerah tiba-tiba menjadi kawasan industri maju.
Sampai ketemu lagi minggu depan, Terima kasih.
Bandung, 12 September 2026
